LUMENESIS: saat dunia bergantung pada kecerdasan buatan

Chafid Firman
Chapter #2

Bab II - Daging, Darah dan Besi Tua

UAP BELERANG DARI PIPA PEMBUANGAN KOTA METROPOLIS MENGEPUL TEBAL DI SELA-SELA LANTAI JERUJI BESI BENGKEL DOKTOR VICTOR. Asap berbau karat dan bahan bakar sintetis itu merayap naik, menciptakan tirai tipis yang membuat lampu neon biru di langit-langit tampak pudar, berkedip-kedip seolah sedang berjuang melawan sisa umurnya sendiri. Di luar sana, suara gemuruh kereta layang magnetik yang melintasi Sektor Bawah terdengar seperti geraman monster baja yang tak pernah tidur, menggetarkan dinding beton bengkel yang dipenuhi coretan grafiti pudar.

Doktor Victor, dengan kacamata pembesar majemuk yang terpasang permanen di rongga mata kirinya dan lengan sibernetik tua yang berderit setiap kali digerakkan, sedang membersihkan sirkuit transmisi. Jari-jari logamnya yang kusam namun sangat presisi sedang mengikis penumpukan karbon dari sebuah papan sirkuit hijau ketika Kaien masuk. Pemuda itu mengusap keringat bercampur pelumas dari dahinya, lalu tanpa ragu meletakkan sebuah pamflet hologram turnamen di atas meja logam yang dipenuhi perkakas berserakan.

Pamflet itu seketika aktif begitu menyentuh permukaan meja. Ia memancarkan cahaya merah berpendar yang memotong kegelapan bengkel, memproyeksikan tulisan tiga dimensi yang berputar perlahan di udara:

TURNAMEN REKAYASA MEKANIK SEKTOR BAWAH Sponsor Utama: OmniCorp Synaptics Hadiah Utama: Lisensi Memori Kognitif Permanen & Kenaikan Kelas ke Sektor Atas.

Doktor Victor menghentikan gerakannya seketika. Ujung penyolder las di tangan kanannya mendesis pelan. Ia melepas kacamata pembesarnya menampakkan kulit di sekitar matanya yang penuh bekas luka bakar menatap pamflet merah itu dengan rahang mengeras, lalu beralih menatap Kaien dengan mata tuanya yang letih. Ada campuran antara kemarahan dan rasa kasihan dalam pandangan pria tua itu.

"Singkirkan sampah itu, Kaien," suara Victor terdengar dingin, memecah kesunyian bengkel, serak seperti gesekan amplas pada baja. Ia menekan tombol pada meja, berusaha mematikan proyektor hologram tersebut, tetapi Kaien menahan tangannya.

"Pendaftarannya ditutup lusa, Dok," kata Kaien, suaranya datar namun sarat akan keteguhan yang tidak bisa digoyahkan. Ia menatap lurus ke dalam mata sibernetik Victor. "Hadiahnya bisa menyelamatkan Valerie. Lisensi permanen itu... lisensi itu akan membebaskannya dari utang sewa memori seumur hidup. Otaknya tidak perlu dikikis lagi oleh data arsip korporasi OmniCorp."

Kata-kata 'sewa memori' menggantung di udara seperti racun. Di Sektor Bawah, ketika seseorang tidak lagi memiliki kredit untuk makan, mereka menyewakan kapasitas ruang kosong di otak mereka kepada korporasi raksasa untuk menyimpan data mentah. Sebuah flashdisk biologis. Namun, otak manusia tidak dirancang untuk menampung algoritma biner secara terus-menerus. Perlahan, data-data korporasi itu akan menimpa saraf hippocampus, menghapus kenangan pribadi si penyewa secara permanen.

Doktor Victor meletakkan tang klemnya dengan sentakan keras hingga berdenting nyaring, menggema di seluruh ruangan bengkel. Ia melangkah mendekat, tubuhnya yang separuh mesin tampak menjulang. Lengan mekanisnya mengeluarkan bunyi desis hidrolik yang berat, meneteskan setetes cairan pendingin ke lantai besi.

"Kamu tidak mengerti apa yang kamu hadapi," Victor menunjuk dada Kaien dengan jari sibernetiknya yang dingin, menekan keras hingga Kaien bisa merasakan ujung logam itu di balik kaus lusuhnya. "Turnamen itu bukan tempat untuk montir jalanan yang bekerja dengan perasaan. Ini bukan kontes memperbaiki mesin pemanas warga Sektor Bawah. Sektor Atas mengirimkan sponsor-sponsor mereka. Anak-anak emas dari laboratorium! Peserta di sana menggunakan implan memori taktis Apex-9 atau Savant-X. Mereka tidak lagi 'belajar' mekanika, Kaien. Mereka mengunduhnya!"

Victor berjalan mondar-mandir, napasnya memburu. "Saraf mereka terhubung langsung ke basis data dengan presisi mikrometer. Mata mereka dilengkapi pemindai termal dan kalkulator fisika kuantum. Mereka bisa melihat kelemahan struktural suatu mesin hanya dengan meliriknya. Mereka bisa merakit mesin turbin dalam tiga puluh detik tanpa perlu berpikir. Bagi mereka, ini bukan seni. Ini adalah eksekusi matematis murni."

Victor berhenti sejenak. Matanya yang sebelah menyipit, menatap telapak tangan Kaien yang kasar, kapalan, dan dipenuhi bekas luka robek baru akibat obeng kemarin yang meleset. Tangan manusia biasa. Tangan yang rapuh.

"Sedangkan kamu? Kamu bekerja dengan daging, darah, dan ingatan otak manusia yang lambat," desis Victor. "Kamu masih harus memikirkan baut mana yang harus diputar, torsi berapa yang dibutuhkan. Begitu mereka memulai timer di arena itu, kamu bahkan belum selesai merasakan sakit saat jarimu tergores besi, dan mereka sudah menyelesaikan tahap ketiga. Ini bukan kompetisi, Kaien. Ini adalah pembantaian kognitif. Mereka akan mempermalukanmu, lalu membiarkanmu mati kelaparan karena kehilangan uang pendaftaran."

"Saya tahu," jawab Kaien pelan, suaranya tertahan di tenggorokan. Ia tidak mundur selangkah pun meski aura Victor sangat mengintimidasi. "Saya tahu saya kalah cepat. Saya tahu saya tidak punya cip prosesor di kepala saya. Tapi saya punya otot yang merekam setiap kegagalan. Dan saya punya buku catatan ini."

Kaien menepuk saku jinsnya yang menyimpan logbook lusuh bersampul kulit buatan. Buku itu penuh dengan noda oli, keringat, dan coretan tangan. Di dunia di mana segala sesuatu disimpan dalam cloud dan memori digital, Kaien menulis setiap rahasia mesin yang ia pelajari dengan tangannya sendiri. Menulis membuatnya mengingat lebih kuat daripada unduhan data mana pun.

"Itu tidak akan cukup " bantah Victor.

"Valerie mulai melupakan masa kecil kami, Victor," potong Kaien, suaranya kini melemah, bergetar menahan keputusasaan yang selama ini ia sembunyikan. Matanya menatap lurus pada ujung jemari mekanis sang doktor. "Kemarin... kemarin dia menatap foto lama kami. Foto saat ibu masih ada, saat kami berdiri di depan Kedai Nyonya Lin. Dan dia bertanya padaku siapa anak perempuan kecil di foto itu. Dia tidak ingat siapa yang mengambil gambarnya. Dia bahkan ragu apakah itu dirinya."

Lihat selengkapnya