LUMENESIS: saat dunia bergantung pada kecerdasan buatan

Chafid Firman
Chapter #3

Bab III - Hari Turnamen

ARENA SEKTOR BAWAH MALAM ITU TAMPAK SEPERTI KATEDRAL KACA DAN BAJA RAKSASA YANG DITERANGI OLEH RIBUAN LAMPU SOROT XENON DAN PROYEKSI HOLOGRAM IKLAN NEON SETINGGI GEDUNG SEPULUH LANTAI. Cahaya-cahaya itu menembus kabut polusi dan asap sisa pembakaran industri yang selalu menyelimuti langit Sektor Bawah, menciptakan pendaran warna-warni yang menyilaukan sekaligus menyesakkan.

Hologram raksasa seorang wanita berpakaian geisha siber tersenyum genit sambil memegang kaleng minuman energi bertenaga isotop, berdampingan dengan proyeksi seorang prajurit bayaran yang memamerkan lengan bionik berlapis titanium dari OmniCorp. Dengung konstan dari puluhan ribu penonton campuran antara pekerja pabrik yang kelelahan, lintah darat, peretas jalanan, dan petinggi korporat yang mencari hiburan murah bercampur dengan desau ribuan drone kamera yang melayang di udara, mengirimkan siaran langsung ke seluruh penjuru metropolis, bahkan hingga ke Sektor Atas yang steril dan mewah.

Bau di udara adalah perpaduan tajam antara ozon, bir sintetik murahan, keringat asam, dan logam panas. Ini adalah The Gauntlet, turnamen mekanik paling brutal di seluruh distrik. Bukan hanya sekadar adu cepat merakit mesin, melainkan arena bertahan hidup di mana nyawa dan kewarasan sering kali menjadi taruhan di atas meja kerja.

Kaien berdiri di stasiun kerjanya sebuah meja logam bundar bernomor 07. Di atas meja itu, terdapat tumpukan komponen mesin yang masih tersegel dalam wadah kedap udara berbentuk silinder heksagonal. Permukaan meja itu dingin, berbanding terbalik dengan udara arena yang panas dan pengap. Kaien mengenakan jaket kulit usang yang penuh dengan noda pelumas dan bekas luka bakar pakaian yang menceritakan ribuan jam kerja keras di bengkel-bengkel gelap Sektor Bawah. Wajahnya keras, rahangnya terkatup rapat, dengan kantung mata hitam yang menjadi saksi bisu atas malam-malam tanpa tidur.

Di sekelilingnya, stasiun kerja lain diisi oleh mekanik-mekanik pilihan, para modifikator tubuh yang menganggap diri mereka berevolusi melampaui batasan manusia. Di stasiun nomor 06, seorang kontestan bernama Vane yang disponsori oleh korporasi medis besar Aesculapius Dynamics, terlihat dari logo ular melilit tongkat yang menyala neon di bahu jaketnya sedang mengkalibrasi implan kognitifnya.

Mata Vane berkedip cepat secara berkala, memproyeksikan diagram sirkuit 3D langsung di retina matanya. Lumen di belakang telinganya menyala dengan warna biru elektrik yang pekat, bersenandung halus tanda sinkronisasi basis data telah mencapai seratus persen. Lengan kanan Vane bukan lagi daging dan tulang, melainkan susunan serat karbon dan servo mikro yang dilengkapi dengan berbagai alat presisi terintegrasi pemotong laser, penyolder mikro, dan pemindai sonik.

Vane melirik Kaien, melihat perban kusam yang melilit jemari tangan kiri Kaien, lalu tersenyum meremehkan. Senyum itu adalah senyum seseorang yang melihat serangga di atas meja kerjanya.

"Mekanik analog," gumam Vane pelan, namun perangkat akustik di kerah bajunya memproyeksikan suaranya cukup keras untuk didengar Kaien di tengah bisingnya arena. "Bagaimana bisa panitia membiarkan barang antik masuk ke arena ini? Kau tersesat, Pak Tua? Ini bukan tempat pembuangan rongsokan. Kita merakit teknologi presisi di sini. Prosesor neuralku bisa menghitung toleransi mikro dalam hitungan milidetik. Apa yang bisa dilakukan oleh otak dagingmu yang lambat itu?"

Kaien tidak menyahut. Ia telah mendengar hinaan semacam itu ribuan kali. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma ozon dan pelumas memenuhi paru-parunya, menenangkan detak jantungnya yang berkejaran dengan ketukan musik synth-bass bising yang memompa adrenalin di arena. Tangannya meraba permukaan kasar buku catatan logam di dalam saku jaketnya sebuah jimat yang menampung ribuan goresan pensil, ribuan jam kegagalan, dan luka-luka yang kini telah mengering menjadi kapalan keras.

Buku itu adalah pusaka, berisi pengetahuan empiris yang tidak akan pernah ditemukan di dalam peladen pangkalan data korporasi mana pun. Buku itu berisi anomali, trik-trik kotor mesin tua, dan cara-cara "berbicara" dengan logam yang menolak tunduk pada algoritma matematis.

Pikirannya melayang kembali ke beberapa jam yang lalu. Sebelum meninggalkan flat kumuhnya tadi siang, Valerie sempat menatapnya di ambang pintu. Valerie, adik perempuannya, duduk di kursi roda levitasi dengan selang-selang nutrisi yang menempel di lehernya. Valerie mengidap Sindrom Kaskade Saraf, sebuah penyakit degeneratif mematikan akibat terlalu lama bekerja di pabrik pengolahan bahan kimia milik OmniCorp tanpa alat pelindung yang memadai. Ingatan Valerie sedang buruk hari itu, pandangannya sering kali kosong menatap dinding yang mengelupas.

Namun, ada kilau kesadaran yang sangat jernih dan menyayat hati saat ia mengangkat tangannya yang gemetar dan menyentuh lengan Kaien.

"Pulanglah dengan utuh, Kai. Jangan biarkan mereka mengambil apa yang tersisa di kepalamu," bisik Valerie waktu itu, suaranya parau. "Mereka mungkin memiliki mesinnya, tapi kau memiliki jiwanya."

Kaien tahu persis apa maksud Valerie. Hadiah utama The Gauntlet bukan hanya jutaan Kredit yang cukup untuk membeli obat Neuro-Stabilizer dosis penuh untuk Valerie, tetapi juga kontrak eksklusif dengan korporasi raksasa. Dan kontrak korporasi selalu datang dengan syarat "peningkatan" wajib pemasangan implan neural yang perlahan-lahan akan menggerus empati, intuisi, dan segala hal yang membuat seseorang menjadi manusia, menggantinya dengan efisiensi mesin yang dingin. Kaien menolak itu. Ia ingin menyelamatkan adiknya, bukan dengan mengorbankan kemanusiaannya sendiri.

Kini, di bawah sorotan lampu stadion yang menyengat kulitnya, Kaien meraba peralatan manualnya yang diletakkan Doktor Victor satu-satunya dokter bawah tanah yang masih peduli pada kaum miskin di atas meja. Victor telah menyelundupkan alat-alat ini untuknya.

Di atas meja baja itu tergeletak sebuah kunci pas baja berat yang warnanya sudah menghitam, obeng mekanis tanpa motor, dan tang kuno dengan pegangan karet yang mengelupas. Peralatan itu terlihat sangat menyedihkan dan primitif di antara peralatan kalibrasi laser, pinset levitasi magnetik, dan obeng sonik milik kontestan lain.

"Implan bisa diretas, Kai. Sinyal bisa diacak. Mata bionik bisa tertipu oleh fatamorgana optik," kata Doktor Victor saat menyerahkan tas peralatannya. "Tapi tuas, pengungkit, dan torsi? Mereka mematuhi hukum fisika murni. Jangan percayai layar, percayai tanganmu."

"Perhatian seluruh kontestan!" Suara sintetis yang menggelegar dari pengeras suara arena bergema, memotong keriuhan penonton secara instan. Suara itu begitu keras hingga menggetarkan tulang rusuk. Drone-drone kamera mengerumuni area meja kerja, memproyeksikan wajah-wajah tegang para kontestan ke layar raksasa.

Lihat selengkapnya