LUMENESIS: saat dunia bergantung pada kecerdasan buatan

Chafid Firman
Chapter #4

BAB IV - Babak Eliminasi

Wadah kedap udara yang terpasang kokoh di atas stasiun kerja nomor 07 akhirnya terbuka. Desis tajam pelepasan tekanan udara seketika menyengat telinga Kaien, membelah kebisingan arena. Bersamaan dengan terangkatnya penutup baja itu, sebuah aroma yang sangat spesifik dan memuakkan langsung menguar. Itu bukan sekadar bau mesin. Itu adalah kombinasi tajam dari argon cair, polimer murah yang dipanaskan, dan pelumas sintetik pabrik. Bau itu mengingatkan Kaien pada lorong-lorong pembuangan limbah di tingkat terbawah Sektor Bawah—tempat di mana mesin-mesin rongsokan dibiarkan mati dan membusuk di bawah guyuran hujan asam.

Di dalam wadah berlapis busa peredam kejut tersebut, lusinan komponen Inti Penggerak Plasma Kelas 4 tergeletak dalam kondisi berantakan bak tulang-belulang logam. Sistem kompetisi sengaja merancangnya demikian untuk menguji identifikasi awal. Setiap keping logam, mulai dari poros utama hingga sekrup transmisi terkecil, dibungkus rapat oleh pelindung polimer tipis yang terasa lengket di kulit. Itu adalah pengaman konyol dari pabrik yang harus dikupas satu per satu dengan tangan kosong sebelum proses perakitan yang sesungguhnya bisa dimulai.

Benda-benda mati di hadapan Kaien memancarkan suhu dingin yang membekukan. Baja tak bernyawa. Baja yang secara ironis akan menentukan nasib darah dagingnya. Tumpukan logam dingin itulah yang akan menjadi hakim tunggal, menentukan apakah adiknya, Valerie, masih memiliki sisa ruang kognitif untuk mengingat nama mereka sendiri bulan depan, atau justru tenggelam sepenuhnya menjadi cangkang kosong tak bernama.

Di stasiun nomor enam yang berjarak hanya dua meter darinya, pertarungan sudah dimulai dengan brutal. Vane, sang mekanik andalan dari faksi korporasi medis, telah bergerak melebihi batas biologis manusia normal. Kaien melirik sekilas dari sudut matanya, dan apa yang ia lihat membuat perutnya terasa mual. Gerakan tangan pria itu sama sekali tidak menyerupai gerakan tangan manusia. Lengannya melesat mengupas polimer pelindung dengan kecepatan mengerikan, sangat stabil, kaku, dan tanpa getaran sedikit pun.

Vane bahkan tidak repot-repot memusatkan pandangannya pada tumpukan besi di depannya. Matanya memancarkan pendar cahaya biru neon yang tajam, menatap kosong seolah menembus meja logam di bawahnya. Ia sedang tidak melihat realitas fisik, melainkan membaca skema perakitan tiga dimensi yang diproyeksikan langsung ke retina matanya. Ritme kerjanya—setiap putaran pergelangan tangan, setiap tarikan napas—tidak lagi dikendalikan oleh insting manusiawi, melainkan didikte sepenuhnya oleh sinyal mikrodetik tanpa ampun dari implan Lumen di balik tengkoraknya. Tangannya meluncur mulus menyeberangi meja kerjanya bagaikan lengan robot industrial di pabrik perakitan otomatis.

Menyaksikan itu, Kaien menunduk, menatap sepasang tangannya sendiri. Tangan manusia. Daging yang rapuh. Perban kusam, yang warnanya sudah berubah menjadi kecokelatan akibat kotoran bengkel, melilit erat jemari kirinya. Titik-titik darah segar perlahan mulai merembes dari balik ikatan itu, mengotori kain kasa murahan yang baru ia beli dari apotek kumuh di sudut Sektor Bawah pagi tadi. Luka robek akibat kecelakaan obeng itu belum sempat mengering.

Ada denyut perih yang amat tajam, menusuk-nusuk sarafnya setiap kali ia mencoba mengepalkan tangan. Namun, di tengah gemerlap arena yang memuja teknologi artifisial ini, rasa sakit itu entah bagaimana membawa kewarasan. Perih itu setidaknya membuktikan satu kebenaran absolut: Kaien masih hidup. Ia masih memegang kendali penuh atas otot, darah, dan pikirannya sendiri.

Udara di dalam stadion raksasa itu terasa sesak dan artifisial. Ribuan penonton di tribun menjerit tak karuan, sementara drone kamera melayang dan berdengung bising bagai kawanan lalat logam di atas meja kerjanya. Kaien mengabaikan semua itu. Ia menarik napas panjang, menahan oksigen di paru-parunya, lalu menutup matanya.

Gelap. Selama satu detik penuh, ia memaksa kesadarannya keluar dari katedral kaca metropolis ini. Ia memutar balik ingatannya, menarik jiwanya kembali ke ruang bawah tanah Doktor Victor—ruangan sempit yang selalu pengap, lembap, dan berbau karat tua. Di sanalah ia menghancurkan tangannya. Di sanalah ia mempelajari rahasia setiap mesin. Ketika Kaien membuka matanya kembali, pandangannya telah berubah. Dunia yang bising di sekelilingnya lenyap tanpa sisa. Fokus matanya menyempit begitu tajam, menyingkirkan eksistensi penonton, menyingkirkan Vane, menyingkirkan segalanya, hingga terkunci hanya pada tumpukan komponen besi di atas meja bundar nomor 07.

Tanpa keraguan sedikit pun, Kaien mengulurkan tangan kanannya, meraih poros silinder utama dari inti plasma tersebut. Baja itu terasa berat dan memancarkan dingin yang menjalar ke telapak tangannya. Di saat kontestan berimplan di sekitarnya sudah mulai membabi buta memutar sekrup menggunakan desingan obeng sonik dan kalibrator laser bertenaga tinggi, Kaien justru terdiam. Ia tidak langsung merakit.

Ia membiarkan ujung jemarinya yang tebal dan kapalan meraba perlahan permukaan logam tersebut, menelusuri alur pasak mikroskopis pada poros utama. Kulit kasarnya—yang penuh luka dan noda pelumas—adalah sensor taktil paling jujur yang ia miliki. Memori otot tangannya, yang telah terbangun lewat ribuan jam kegagalan berdarah, seketika mengenali tekstur baja pembentuk sasis itu. Klik. Cincin pertama masuk.

Tangan kanannya dengan mantap mencengkeram kunci pas baja manual yang dingin. Alat kuno itu berputar. Jika dibandingkan dengan kecepatan gila milik Vane, gerakan Kaien terlihat sangat lambat. Sangat lambat hingga terlihat seperti adegan gerak lambat. Namun, ada satu hal yang mematikan dari cara kerja Kaien: ia tidak pernah mengulang gerakan. Ia tidak pernah meleset. Setiap putaran pergelangan tangan, setiap tekanan pada obeng manualnya yang tidak memiliki motor penggerak, dilakukan dengan tingkat kepastian yang mutlak.

Di saat mesin dan implan harus membaca data visual untuk menghitung torsi, Kaien tidak membuang sepersekian detik pun untuk memikirkan kalkulasi sudut presisi secara matematis. Ia tidak butuh angka. Otot dan urat nadinya sudah hafal di luar kepala kapan ulir sekrup terkunci dengan sempurna, dan kapan logam mulai mencapai titik tegang maksimal sebelum retak.

Satu menit penuh berlalu bagai kedipan mata. Uap panas dari tubuhnya sendiri mulai mengembun di dahinya. Keringat dingin menetes deras dari pelipis, merusak pandangan dan mengaburkan penglihatannya. Kaien mengedipkan matanya dengan keras, menyingkirkan tetesan asin itu. Ia sudah berada di pertengahan jalan perakitan.

Tiba-tiba, sebuah suara asing merobek ritme kerjanya. Nada peringatan yang sangat tinggi, melengking tajam hingga memekakkan telinga, meledak dari stasiun kerja sebelah. Itu adalah bunyi dengung malfungsi dari meja Vane. Tangan Kaien terus memutar sekrup tanpa henti, namun ia melirik sekilas ke arah pesaingnya itu.

Tangan mekanik Vane, yang sebelumnya melesat bak peluru, kini mendadak terhenti di tengah jalan. Lengannya menggantung kaku di udara, gemetar hebat tak terkendali, persis seperti putaran mesin pabrik yang tiba-tiba kehilangan gigi transmisinya. Ekspresi wajah Vane yang semula begitu angkuh, dingin, dan tenang, seketika runtuh. Wajahnya memucat, digantikan oleh kepanikan yang nyaris histeris. Di dalam pantulan bola matanya, Kaien bisa melihat diagram sirkuit tiga dimensi yang tadinya berwarna biru kini berkedip-kedip brutal dengan warna merah darah yang terang.

Sebuah baris teks virtual terpampang kejam di sana: Error: Komponen Tidak Sesuai Spesifikasi Database.

Kaien mengembalikan pandangannya ke mejanya sendiri. Ia menunduk, mengamati poros silinder utama yang baru saja akan ia pasang ke kerangka reaktor. Ibu jarinya yang terbalut sisa serbuk logam secara refleks meraba bagian tepi permukaan kiri silinder tersebut. Instingnya mengatakan ada yang salah. Kulitnya merasakan gesekan yang ganjil. Di sana, terdapat tonjolan logam yang sangat kasar—sebuah cacat yang mungkin ukurannya tidak lebih tebal dari 0,2 milimeter.

Lihat selengkapnya