LUMENESIS: saat dunia bergantung pada kecerdasan buatan

Chafid Firman
Chapter #5

BAB V - Babak Semifinal

Transisi dari hiruk-pikuk arena menuju ruang tunggu menyisakan guncangan sensorik yang tidak menyenangkan. Suhu di dalam ruang steril kontestan terasa jauh lebih dingin dibanding atmosfer pengap di Sektor Bawah. Udara di sini diatur sedemikian rupa oleh mesin pendingin industri, sengaja diciptakan untuk membekukan keringat dan menekan emosi manusiawi. Bau antiseptik menyengat tajam, mencoba menyembunyikan sisa ketegangan yang ditinggalkan oleh para peserta yang gugur di babak sebelumnya. Aroma itu menohok rongga hidung, seolah panitia turnamen ingin memastikan bau kepanikan, rasa frustrasi, dan muntahan empedu dari para mekanik yang gagal tidak mencemari kemegahan acara.

Ruangan raksasa yang beberapa jam lalu sesak oleh seratus montir arogan dengan berbagai modifikasi siber kini melompong. Dari seratus meja kerja di awal turnamen, kini hanya tersisa sepuluh meja yang menyala di tengah arena. Sepuluh stasiun kerja. Sepuluh penyintas yang akan segera digiring kembali ke altar pembantaian kognitif.

Kaien duduk menyendiri di bangku logam sudut ruangan, mengendurkan perban kusam di tangan kirinya yang mulai basah oleh rembesan darah baru. Ia menggigit ujung kain kasa itu, menariknya dengan sentakan pelan untuk membebaskan ototnya yang kaku. Kain itu sudah mengeras oleh campuran oli dan darah yang mengering, namun kini kembali lengket. Rasa ngilu di pangkal ibu jarinya kian berdenyut seiring dengan menurunnya sisa adrenalin dari babak eliminasi. Denyutan itu terasa seperti detak jantung kedua yang berdetak liar tepat di bawah kulitnya yang terkoyak. Tidak ada kelegaan. Turunnya hormon adrenalin justru mengundang kembali rasa sakit yang sebelumnya berhasil ia redam, kini menuntut perhatian penuh dari sistem sarafnya.

Di tengah kesunyiannya yang menyiksa, sebuah bayangan tinggi menghalangi cahaya lampu neon di atasnya. Doktor Victor melangkah mendekat. Langkah kaki mekanisnya berbunyi desis halus yang sengaja diredam agar tidak menarik perhatian drone kamera pengawas yang melayang di langit-langit ruangan. Pria tua itu tahu betul bahwa korporasi tidak menyukai campur tangan dari luar, apalagi dari seorang mantan perancang implan yang membelot.

Victor membungkuk sedikit, menatap luka di tangan Kaien dengan ekspresi muram. Tidak ada raut kebanggaan di wajahnya. Tidak ada ucapan selamat yang klise. Mata tuanya yang letih hanya melihat daging yang mulai hancur.

"Jari-jarimu hampir mencapai batas kinerjanya, Kai," bisik Victor pelan, suaranya parau. Gesekan pelat suara di tenggorokan sibernetiknya terdengar berat. "Dan babak semifinal nanti tidak akan membiarkanmu bernapas.".

Kaien tidak mendongak. Jemarinya terus meraba permukaan buku catatan di saku jaketnya. Buku bersampul karton lusuh itu adalah jangkar kewarasannya, sebuah monumen kecil berisi ribuan jam kegagalan yang membentuk instingnya saat ini. "Apa tantangannya, Dok?". Suara Kaien terdengar datar, kosong dari emosi, namun menyembunyikan keputusasaan yang dalam.

"Sinkronisasi Dinamis," Victor melirik ke arah panel juri di balik dinding kaca tebal. Ada kebencian yang samar saat ia menatap deretan eksekutif korporasi yang duduk nyaman di sana. Victor mengalihkan pandangannya kembali ke Kaien. "Mereka tidak akan membiarkan komponen mesin diam untuk kamu rakit. Komponen-komponen itu akan dimasukkan ke dalam tabung medan magnetik fluktuatif—mereka akan terus bergeser, berputar, dan melayang tanpa pola tetap selama proses perakitan.".

Kaien mengernyitkan dahi. Ia mencoba membayangkan memegang sebuah poros yang terus-menerus menolak sentuhannya, bergerak menjauh setiap kali obengnya mendekat. "Seperti mencoba merakit mesin di tengah badai?".

"Lebih buruk dari itu," lanjut Victor, rahang organiknya mengeras. "Sistem itu sengaja didesain oleh korporasi untuk menyaring mekanik analog sepertimu. Para peserta berimplan akan menggunakan chip taktis kelas militer. Otak mereka terhubung langsung ke sensor medan magnet untuk memprediksi arah pergeseran komponen dalam hitungan mikrodetik. Matamu tidak akan cukup cepat untuk menangkap gerakan visualnya, Kai.".

Keheningan yang pekat merayap di antara mereka. Kaien terdiam. Pernyataan itu jatuh bagai vonis mati. Jika matanya tidak cukup cepat, apa yang tersisa dari tubuh manusianya untuk melawan algoritma tempur? Jika ia kalah di babak ini, Valerie akan kehilangan kesempatan terakhirnya untuk diselamatkan dari gerusan memori digital. Kakaknya itu akan tenggelam. Gadis malang yang bahkan mulai lupa pada senyum ayahnya sendiri itu akan habis tergerus, menyisakan seonggok daging tanpa identitas yang hanya berfungsi sebagai rak arsip korporasi.

Lihat selengkapnya