LUMENESIS: saat dunia bergantung pada kecerdasan buatan

Chafid Firman
Chapter #6

BAB VI - Babak Final

Kini, dari seratus peserta yang memenuhi arena pada awal malam, hanya tersisa dua stasiun kerja yang menyala di tengah hamparan katedral kaca raksasa itu. Sembilan puluh delapan mekanik lainnya telah tersingkir, diusir dari panggung utama, menyisakan kekosongan yang terasa sangat menekan. Udara di dalam stadion berubah menjadi sangat dingin dan diselimuti keheningan yang mencekam. Suara hiruk-pikuk puluhan ribu penonton dari kelas pekerja di tribun Sektor Bawah seolah tersedot paksa ke dalam sebuah ruang hampa. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada ejekan. Puluhan ribu pasang mata itu menahan napas, menatap tajam ke arah dua gladiator terakhir yang tersisa di tengah panggung baja.

Di stasiun nomor 01 berdiri Jax.

Pria itu bukanlah sekadar mekanik; ia adalah etalase berjalan bagi teknologi masa depan, sebuah purwarupa manusia sempurna yang telah direkayasa ulang. Jax merupakan juara bertahan yang disponsori langsung oleh Cognitive Trust, dipersenjatai dengan implan kognitif tingkat militer tercanggih yang pernah diciptakan oleh korporasi metropolis. Posturnya tegap tak wajar, tulang punggungnya ditopang oleh penyangga mikro-hidrolik di balik kulitnya. Matanya memancarkan pendar biru neon yang konstan, tidak pernah berkedip lebih dari yang diperlukan untuk melumasi kornea. Seragam putihnya bersih tanpa setetes pun noda pelumas atau debu pabrik. Ia bernapas dengan ritme metronom yang diatur langsung oleh komputer di tengkoraknya.

Di seberangnya, terpisah jarak belasan meter dari kesempurnaan artifisial itu, berdiri Kaien di stasiun 07.

Penampilannya adalah kebalikan mutlak dari Jax. Jika Jax adalah masa depan, maka Kaien adalah masa lalu yang menolak untuk mati. Wajah Kaien kotor oleh sapuan jelaga yang lengket, kausnya lepek dan bau oleh keringat dingin, dan tangan kirinya terbungkus perban merah yang sudah basah kuyup oleh rembesan darah segar. Ia terlihat seperti pekerja kasar yang baru saja diseret paksa dari gorong-gorong pembuangan kota, bukan seorang finalis turnamen elit yang ditonton oleh jutaan warga metropolis. Denyut nyeri di pangkal ibu jarinya kini menjalar hingga ke siku. Rasanya seperti ada bara api yang ditanam di bawah kulitnya. Ia harus menggigit bagian dalam pipinya keras-keras, menggunakan rasa sakit yang baru untuk mendistraksi sarafnya dari rasa sakit di tangannya.

Suara asisten virtual sistem arena memecah keheningan, menggema berat menembus dinding baja stadion.

Tantangan final malam ini adalah merakit Reaktor Kuantum Miniatur.

Mendengar itu, rahang Kaien menegang. Itu bukan sekadar mesin biasa; itu adalah replika langsung dari jantung energi yang menghidupkan seluruh metropolis raksasa ini, dan sifatnya sangat tidak stabil. Benda itu bagaikan bom waktu biologis yang dibungkus dalam cangkang baja. Tidak ada ruang untuk kesalahan, tidak ada toleransi untuk tangan yang gemetar. Satu kesalahan kecil saja—bahkan hanya selisih tekanan mikro pada katup penyeimbangnya—akan memicu kegagalan termal seketika. Mesin itu akan meleleh dari dalam, memuntahkan panas ribuan derajat yang akan merusak seluruh sistem secara permanen, dan tentu saja, mendiskualifikasi kontestan di tempat.

"BABAK FINAL DIMULAI," suara sintetis dari pengeras suara menggelegar, bergetar di lantai arena. "WAKTU PENGERJAAN: SEPULUH MENIT. DIMULAI DALAM TIGA, DUA…".

Namun, sebelum hitungan mundur itu mencapai angka satu dan melepaskan segel wadah perakitan, sebuah anomali brutal terjadi.

Sesuatu yang sama sekali tidak diprediksi oleh algoritma korporasi mana pun.

Lampu sorot xenon raksasa di atap stadion tiba-tiba berkedip keras, menyilaukan mata dan mengeluarkan bunyi letupan listrik statis. Dari luar dinding kaca stadion, terdengar suara dengung generator utama metropolis yang mendadak melengking tinggi hingga memekakkan telinga, berteriak meminta ampun sebelum akhirnya mati total dengan suara dentuman berat.

Blar!.

Lihat selengkapnya