Klik. SATU BUNYI KETUKAN LOGAM YANG SALING MENGUNCI ITU TERDENGAR SANGAT JERNIH, MEMBELAH KESUNYIAN YANG MENCEKIK TENGGOROKAN. Ujung obeng manual Kaien terlepas dari kepala sekrup, dan tangannya yang gemetar hebat perlahan ditarik mundur. Kaien baru saja menekan katup pengunci terakhir pada sasis Reaktor Kuantum tepat pada detik yang sama saat lampu darurat berwarna merah di atap stadion berkedip untuk terakhir kalinya.
Selama satu detik yang terasa bagai keabadian, tidak ada yang terjadi. Udara di dalam arena membeku. Puluhan ribu penonton berhenti bernapas. Jantung Kaien berdebar sangat keras hingga menghantam tulang rusuknya, menunggu vonis dari hukum fisika yang baru saja ia tantang dalam kegelapan.
Lalu, dari dalam tabung logam raksasa di atas meja Kaien, sesuatu mulai hidup. Sebuah pendar cahaya keemasan yang sangat terang, padat, dan stabil mulai memancar. Cahaya itu tidak berkedip. Tidak ada getaran fluktuatif yang menandakan anomali tekanan. Pendaran hangat itu merambat keluar dari rongga-rongga katup yang dirakit Kaien, menjadi bukti fisik tak terbantahkan bahwa reaktor kuantum tersebut telah menyala dengan sempurna. Mesin itu berhasil menyeimbangkan tekanan energinya sendiri dari dalam, murni melalui presisi perakitan tangan manusia, tanpa bantuan sekeping pun kalkulasi otomatis dari komputer.
Satu detik kemudian, seolah alam semesta akhirnya menyerah pada kegigihan manusia, aliran listrik dari Sektor Atas metropolis kembali pulih.
Bzzzt—TRANG!
Lampu-lampu sorot xenon raksasa di atap stadion serentak menyala kembali, menghantam lantai arena dengan kilauan cahaya putih yang nyaris membutakan mata. Kaien harus menyipitkan matanya yang perih, mengangkat sebelah lengan untuk menghalau silau yang tiba-tiba menyerang retina. Mesin pendingin ruangan kembali mendengung. Sistem komputer arena yang tadinya mati total kini menyala serempak, memulai proses booting darurat yang memekakkan telinga.
Di atas sana, layar hologram empat sisi yang melayang di tengah panggung langsung menyala, memuat data hasil pertandingan dari sensor termal meja perakitan. Angka-angka itu terpampang dalam huruf raksasa yang membakar retina siapa pun yang melihatnya:
STASIUN 07: PERAKITAN SEMPURNA. WAKTU: 09 MENIT 45 DETIK. AKURASI FISIK: 100%. STASIUN 01: PERAKITAN GAGAL (SISTEM TIDAK SELESAI).
Sesaat, stadion raksasa itu seolah kehilangan suaranya. Akal sehat para petinggi korporasi, juri, dan penonton dipaksa mencerna sebuah kemustahilan matematis. Namun, begitu logika mereka berhasil memproses deretan angka di layar tersebut, stadion raksasa itu meledak dalam kegemparan paling brutal dan liar yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah berdirinya turnamen.
Ribuan penonton dari kelas pekerja Sektor Bawah berteriak histeris, meluapkan amarah, penderitaan, dan kebanggaan yang selama ini dibungkam oleh hegemoni teknologi. Beberapa dari mereka melompati pagar pembatas tribun, mengabaikan peringatan keamanan dari drone penjaga. Mereka meneriakkan nama Kaien berulang-ulang, meninju udara hingga suara mereka serak. Kemenangan ini bukan lagi sekadar tentang siapa yang bisa merakit mesin paling cepat; ini adalah perayaan kemenangan telak daging, darah, dan manusia atas arogansi mesin-mesin yang selama ini memperbudak mereka.
Di tengah kekacauan yang memekakkan telinga itu, pandangan Kaien menyapu pinggiran arena. Di sana, terpisah dari hiruk-pikuk penonton yang menggila, Doktor Victor berdiri diam. Pria tua yang wajahnya selalu keras dan dipenuhi gurat kekecewaan itu kini tersenyum lebar—sebuah ekspresi yang sangat jarang terlihat. Perlahan, dengan gerakan yang sarat akan rasa hormat, Victor mengangkat lengan mekanisnya yang berkarat tinggi-tinggi ke udara, memberikan penghormatan murni yang tak terucapkan kepada muridnya. Sebuah pengakuan bahwa metode usang mereka, rasa sakit mereka, memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada cip silikon manapun.
Bagi sebagian besar orang, memenangkan turnamen bergengsi ini berarti panggung, ketenaran, dan uang. Namun bagi Kaien, gemuruh tepuk tangan dan teriakan namanya sama sekali tidak ada artinya. Ia tidak peduli pada sorotan lampu, ia tidak butuh pidato kemenangan, dan ia sama sekali tidak berniat berdiri di panggung untuk menunggu medali emas dikalungkan di lehernya. Ia juga tidak sudi membuang waktunya walau hanya satu detik untuk menanggapi kerumunan jurnalis media korporasi yang kini berebut ingin menyorotkan lensa kamera ke wajahnya yang kotor dan berlumuran peluh.
Target utamanya hanya satu.
Seorang panitia eksekutif berjubah putih rapi berjalan gemetar ke arahnya, membawa sebuah kotak logam kecil berwarna hitam. Di dalam kotak itu, tergeletak sebuah benda kecil berbentuk silinder yang memancarkan cahaya redup. Itu adalah kartu berlogo perak—bukti mutlak dari lisensi memori permanen bebas pajak, hadiah utama yang tak ternilai harganya. Begitu kotak itu diserahkan ke tangannya, Kaien langsung membalikkan badan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ia berlari.