LUMENESIS: saat dunia bergantung pada kecerdasan buatan

Chafid Firman
Chapter #8

EPILOG

Tiga Minggu Kemudian

Aroma sup kaldu kubis di dalam flat nomor 402 tidak lagi tercium hambar. Valerie berdiri di depan kompor listrik yang berdengung pelan. Ia sedang mengaduk panci berbahan seng tipis. Gerakan tangannya stabil, tidak lagi diwarnai tremor halus yang biasa menyerang para pecandu memori sewaan. Ia menaburkan sejumput lada putih ke dalam kuah yang mendidih, menghentikan gerakannya sesaat, lalu tersenyum tipis.

"Ayah selalu menaruh terlalu banyak lada putih," gumamnya pelan. Suaranya jernih.

Kaien, yang sedang duduk bersila di atas lantai semen, menghentikan kegiatannya membersihkan sirkuit radio bekas. Ia menatap punggung adiknya. Ada kelegaan yang luar biasa besar membuat dadanya terasa lapang. Valerie mengingat resep itu. Ingatannya bukan lagi sekadar kepingan data sewaan yang akan hangus begitu jam menunjukkan pukul dua belas malam.

Di belakang telinga kiri gadis itu, luka bekas cabutan implan Lumen kini ditutupi oleh plester medis yang tebal. Alat parasit itu sudah dimatikan, diputus paksa dari jaringan arsip korporasi berkat lisensi perak yang kini tertanam di dalam sistem kependudukan mereka. Valerie kembali menjadi manusia utuh. Di atas meja makan mereka yang kakinya pincang, kertas-kertas sketsa berserakan. Setelah tiga tahun lamanya kehilangan kemampuan berimajinasi, Valerie mulai menggambar lagi. Ia menggambar wajah Kaien, sketsa senyum ayah mereka, dan detail-detail kecil dari kedai es krim tua itu. Memori itu kini berakar kuat di otaknya, aman dari jangkauan siapa pun.

Namun, metropolis raksasa ini tidak pernah melepaskan mangsanya begitu saja.

Tepat pada detik yang sama ketika Valerie mematikan kompornya, tiga ratus lantai di atas flat kumuh itu, udara terasa sedingin es.

Lihat selengkapnya