Luminescence: Under the Same Sky

Aoneko
Chapter #1

1 - Pertemuan Dengannya

BOOK 1 – Natasha


Sinar mentari pagi itu menembus gorden kamar Natasha, silau. Sambil memicingkan mata, ia duduk di sudut tempat tidur.

Dengan perasaan agak malas, ia berjalan sempoyongan ke kamar mandi sambil menggosok-gosok matanya.

Ini adalah hari pertamanya di sekolah baru. Bukan tanpa alasan, ia memang sering bergonta-ganti sekolah.

Pokoknya ini yang terakhir, batinnya. Muak banget harus ganti sekolah tiap papa pindah kerja.

“Sasha! Ayo buruan, udah siang!” Mama Natasha berteriak dari lantai bawah.

“Iyaaa!! Bentar!!” Natasha meraih seragam barunya, mengenakannya dengan cepat, dan bergegas setengah berlari ke bawah.

Kenapa gak dari awal ya gue masuk ini sekolah, batinnya sambil tersenyum simpul.

“Nih, makan dulu,” mama Natasha menyodorkan sepiring roti bakar selai blueberry kesukaan Natasha, dan segelas jus jambu.

“Papa kamu udah di mobil, koper kamu juga. Gak ada barang yang ketinggalan, kan?”

Natasha menggeleng, “Udah semua, Ma.”

“Yaudah, ayo,” Mama Natasha menarik tangannya ke luar rumah lalu langsung mengunci pintu.


Sudah pukul setengah delapan pagi. Sekolah baru Natasha berada cukup jauh di luar kota. Butuh setidaknya 2 jam perjalanan untuk sampai ke sana.

Setelah cukup lama berkendara, mobil mereka mulai memasuki daerah pedesaan dengan jalanan berkelok-kelok melintasi bukit. Setelah beberapa kali melewati area persawahan, palang pintu masuk desa itu akhirnya terlihat. Sekitar 5 menit kemudian, deretan rumah-rumah kecil yang jarang khas pedesaan itu berganti menjadi sebuah gerbang beton yang cukup tinggi. Di bagian atas gerbang tertulis: ‘Akademi Seni Aurora’.

Syukurlah, gue pikir lokasinya bakal di pedalaman, batin Natasha sambil menghembuskan napas lega.

Setelah memasuki pintu gerbang dan memarkir mobil, mereka bergegas turun.

“Keren kan, sekolahnya?” kata seorang pria di belakang Natasha.

“Iya lah, namanya juga sekolah seni,” jawab Natasha dingin. “Tunggu …” dengan cepat ia menoleh ke arah sumber suara, yang ternyata adalah seorang pria tak ia kenal, berusia 40-an, mengenakan kemeja biru yang lengannya digulung sampai siku. Pria itu tersenyum nakal.

“Maaf, Pak. Dia anaknya emang suka asal ceplos,” mama Natasha membungkuk kepada pria itu.

“Hahaha, iya, jahat banget, saya jadi sedih.”

“Saya kira … tadi Papa,” Natasha akhirnya ikut bersuara.

Pria itu tertawa renyah.

“Oh iya, perkenalkan, saya Roby, Waka Kesiswaan sekaligus guru Olahraga di sini. Kamu pasti Natasha, kan? Semoga betah ya sekolah di sini,” Pak Roby mengulurkan tangannya kepada Natasha. “Tapi kamu pasti betah sih, soalnya di sini beda dari yang lain.”

“Beda kenapa?” tanya Natasha.

“Ya … soalnya ini satu-satunya. Gak ada Akademi Seni Aurora Cabang 2, hahaha,” goda Pak Roby yang membuat Natasha mendengus kesal.

“Mari Pak, Bu, saya temani berkeliling,” Pak Roby berjalan mendahului mereka. “Barangnya taruh di sini aja dulu,” Pak Roby menunjuk ke area dalam ruang TU.

Setelah itu, mereka berjalan mengelilingi area sekolah sambil menjelaskan ruang dan fasilitas yang ada, dan sesekali menjelaskan tata tertib di sekolah.

Luas banget ini sekolah, batin Natasha sambil melihat ke sekeliling.

“Nah, di tengah sini lapangan utama. Muat untuk semua siswa di semua angkatan. Di sekolah ini ada empat jurusan: Seni Musik, Seni Rupa, Seni Tari, Seni Teater. Natasha kalau gak salah masuk Seni Musik, ya?” Pak Roby memalingkan tatapannya ke arah Natasha. Natasha hanya mengangguk.

“Kalau boleh tahu, kenapa pilih musik?”

Natasha diam sejenak. “Soalnya saya bisanya cuma main musik, Pak. Di seni lain saya sangat gak ada bakat.”

“Hahaha, entah kenapa saya merasakan kejujuran yang dalam di situ. Ya sudah, lanjut?” Pak Roby menatap Natasha dan kedua orang tuanya. Mereka mengangguk dan kembali berjalan.

“Di sini, untuk kelas umum, semua jurusan digabung. Jadi di satu kelas nanti temanmu akan berasal dari semua jurusan yang berbeda. Kamu baru akan gabung dengan sesama anak musik kalau sudah mata pelajaran khusus musik,” jelas Pak Roby sambil berjalan.

“Pak, bukannya sekarang masih jam pelajaran ya, itu anak-anak kok boleh keluar?” Mama Natasha menunjuk beberapa siswa yang nongkrong di luar kelas di kejauhan.

“Gak ditegur, Pak?” Papa Natasha ikut bertanya.

“Gak perlu, biarin aja,” jawab Pak Roby sambil tersenyum simpul, membuat Mama Natasha menatapnya tak percaya.

“Yah, namanya juga anak-anak. Emang bawaannya kan bandel,” Pak Roby mengedipkan satu matanya ke arah Natasha. “Mungkin mereka lagi jam kosong. Mungkin mereka ini pemegang jargon: ‘peraturan ada untuk dilanggar,’ hahaha. Tugas kami sebagai guru hanya mengawasi. Apalagi ini kan sekolah asrama, anak-anak harus belajar mandiri dan bertanggung jawab sendiri. Kalau memang mau bandel ya sudah, biarin. Yang penting kami sudah kasih tahu aturannya. Melanggar berarti ada konsekuensinya.”

“Kalau keluar kelas begitu, nggak melanggar, Pak?” tanya Mama Natasha.

“Kalau memang lagi jam kosong sih gak apa-apa, Bu, asal jangan ribut,” Pak Roby terus berjalan.

“Kalau rambut warna-warni begitu?” kali ini Papa Natasha yang menunjuk segerombolan siswa.

“Kalau itu juga gak apa-apa, toh ini sekolah seni. Jadi mereka bebas mengekspresikan diri.”

“Oh ya,” Pak Roby tiba-tiba berhenti dan menunjuk 2 orang siswa yang sedang berjalan di kejauhan. “Lihat emblem yang di lengan mereka? Itu emblem SS. Student Security. Merekalah yang bertugas menjalankan tatib di sekolah ini. Bahkan yang bikin aturan ya mereka, kalau ada yang melanggar ya mereka juga yang hukum. Kami sebagai guru benar-benar hanya pengawas, dan baru turun tangan kalau memang pelanggarannya sudah cukup fatal.”

Natasha menatap ke arah siswa SS itu sekilas, tidak begitu tertarik.

“Cuma di sekolah ini saja ada organisasi semacam SS,” Pak Roby lanjut berjalan. Mama Natasha hanya manggut-manggut,

“Sekolah ini memang sering punya murid bandel. Manjat pagar, keluar asrama, main ke sawah, yah … asal gak berbuat kriminal, pelanggaran kayak gitu cukup diurus SS,” Pak Roby tertawa. Ponsel di sakunya tiba-tiba bergetar.

“Wah, saya ada urusan mendadak sebentar. Saya tinggal dulu, ya. Boleh jajan di kantin dulu kalau mau,” Pak Roby menunjuk ke arah kantin di seberang mereka.



“Suka?” Papa Natasha bertanya sambil menyeruput kuah baksonya.

“Enak, lumayan,” Natasha terus fokus pada baksonya sendiri.

“Bukan baksonya! Kamu mah makanan apa aja asal ada sambelnya sekilo juga pasti bilang enak.”

“Maksud Papa kamu, kamu suka sekolah di sini?” Mama Natasha ikut menimpali.

“Gak tahu. Belum juga mulai. Asal gak pindah lagi, mungkin aku bakal suka.”

“That’s my Sasha,” Mama Natasha membelai rambut Natasha.

Setelah menghabiskan baksonya, Papa Natasha menyandarkan punggungnya di kursi. “Kamu pasti suka. Ntar jangan lupa sering-sering telepon Papa sama Mama.”

“Dan jangan manjat pagar terus nyolong jambu di sawah. Kamu kan tomboy banget,” mama Natasha menyentil dahi Natasha pelan.

“Aduh. Iya … gak bakal,” Natasha menggosok-gosok dahinya.

“Cari pacar juga!” Papa Natasha tersenyum menggoda.

Natasha hanya menatapnya dengan sebal, membuat mamanya tertawa. “Pacaran boleh, asal jangan macem-macem. Paham?”

Natasha mengangguk. “Sungguh bijak sekali nasihat Anda sekalian,” gumamnya, membuat papanya cengar-cengir sambil menahan ketawa.

Lihat selengkapnya