Sekarang lagi jam pelajaran apa ya? Biologi? batin Natasha sambil bergegas menemukan kelasnya.
Setelah menaiki tangga dan berbelok kiri, Natasha melihat plang kelas 1-2. Pintu kelas itu tertutup. Dengan ragu dan mengumpulkan keberanian, ia mengetuk pintu itu.
“Ya masuk,” jawab suara dari dalam.
“Maaf, Bu Rahma, saya telat,” ujar Natasha sambil berjalan masuk. Ia mengingat nama sang guru setelah tadi sekilas melihat jadwal yang ditempel di depan pintu.
“Kamu Natasha?” tanya Bu Rahma. Natasha menangguk.
Bu Rahma mendengus tipis, lalu mengangguk. “Lain kali jangan terlambat lagi ya,” ujarnya.
“Iya, Bu.”
“Ya sudah, boleh duduk. Cari aja yang kosong,” Bu Rahma mengisyaratkan Natasha untuk duduk dan melanjutkan pelajaran.
Tatapan Natasha jatuh pada bangku kiri nomor dua dari belakang di samping jendela, dan bergegas menempatinya.
“Oh, kamu murid baru itu, ya?” seorang cowok tiba-tiba duduk di sebelah kanan Natasha, bertanya dengan agak berbisik.
“Eh? Oh, iya,” Natasha menatapnya heran. Ini orang ngapain tiba-tiba duduk di sini … tunggu, jangan-jangan ini tempat duduknya, refleks, Natasha menengok ke arah laci meja. Lah iya, beneran. Ada barang orang.
“Kamu … duduk di sini, ya?” tanya Natasha ragu-ragu.
Cowok itu tersenyum. “Kamu duduk di situ juga gak apa-apa, sini buku sama tasku.”
“Eh, aku yang pindah aja.”
“Gak apa-apa. Aku duduk sebelah sini aja,” jawabnya santai.
Dengan malu-malu, Natasha menyerahkan buku dan tas cowok itu.
“Kevin, boleh panggil Kevin. Jurusan musik,” cowok itu mengulurkan tangan ke arah Natasha.
“Natasha, bisa dipanggil Sasha. Jurusan musik juga,” Natasha membalas uluran tangan Kevin.
“Ahem!” tiba-tiba suara berat khas bapak-bapak mengagetkan dari arah belakang mereka. “Kevin, kalau mau pe-de-ka-te sama murid baru, nanti dulu. Sekarang pelajaran dulu.”
Seisi kelas tertawa dan menoleh ke arah Kevin dan Natasha. Tanpa sadar, wajah Natasha merona merah. Ia kembali menatap ke depan.
Eh? Cantik banget, batin Natasha saat tatapannya bertemu dengan siswi yang duduk di depannya, yang kini sedang menoleh ke arahnya.
“Pak Andre, saya gak PDKT. Cuma kenalan,” bela Kevin.
Pak Andre mendengus geli mendengar jawaban Kevin sambil berjalan menghampiri Bu Rahma di depan kelas.
“Anak-anak, kalian belajar sendiri dulu. Saya ada rapat,” Bu Rahma memberi pengumuman sambil berjalan keluar mengikuti Pak Andre.
Seketika suasana kelas menjadi riuh.
“Jangan berisik!” Pak Andre melongokkan kepalanya kembali di balik pintu, lalu kembali menghilang.
Natasha memperhatikan sekeliling. Beberapa anak langsung mulai membentuk kelompok atau sibuk sendiri-sendiri. Ia lalu menatap keluar jendela, menampakkan rumah kaca di bawah sana.
Kok gue masih deg-degan aja ya? Jadi susah fokus rasanya, batinnya.
“Asik ya, baru masuk, telat, eh langsung jam kosong,” kata Kevin memecah lamunan Natasha.
“Hehe. Oh iya, maaf ya, aku kira tadi di sini kosong. Kalau mau balik duduk di sini gak apa-apa, kok,” balas Natasha.
Kevin menggeleng. “Santai aja. Ngomong-ngomong, kok kayaknya lagi banyak pikiran gitu? Kenapa? Abis putus ya?” tanyanya dengan nada bercanda.
“Nah kan … Kevin beneran mau pe-de-ka-te!” siswi yang duduk di depan Natasha tiba-tiba ikut menyahut, sambil mengucapkan ‘PDKT’ dengan nada menirukan Pak Andre, lalu tertawa.
Kevin menatapnya sebal.
“Diem lu, bule KW!” sergah Kevin. “Nggak kok, Nat, aku gak PDKT sama kamu, jangan dipikirin,” lanjutnya.
“Ah, bo’ong, kelihatan banget!”
“Bisa diem gak lu sapi blonde? Gue lagi males berantem sama lu,” kata Kevin lalu pura-pura tidur.
“Hahaha,” siswi itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kevin.
“Oh ya, belum kenalan,” siswi itu tiba-tiba mengulurkan tangan ke arah Natasha. “Namaku Audrey. Panggil aja Rey. Aku anak seni rupa, hehe. Maaf ya, aku bercanda kok. Jangan dianggap serius.”
Natasha membalas uluran tangan Audrey. “Iya, gak papa. Aku Natasha, Sasha. Jurusan musik,” jawab Natasha sambil memperhatikan lekat Audrey.
Jir, matanya biru. Masa kayak gini bule KW? batinnya.
“Hehe, Sasha lagi ada masalah?” tanya Audrey tiba-tiba.
Natasha kaget dan bingung. “Eh? Oh, enggak kok, emang kenapa?”
“Ohh, soalnya Sasha kayak lagi gak fokus gitu. Apa jangan-jangan sudah kangen sama mama-papa? Soalnya kan mulai hari ini Sasha tidur di asrama …” goda Audrey.
“Hah? Enggaklah, hahaha,” jawab Natasha. Ternyata dia asik juga, pasti seru kalo gue bisa akrab sama Rey.
“Terus Sasha kenapa dong?” tanya Audrey lagi.
“Nggg, nggak tahu. Gak apa-apa sih. Cuma … dari tadi deg-degan terus.”
“Oh? Tadi sebelum ke kelas sempat dimarahin sama Pak Jin Bottle?”
“Pak Jin Bottle?” Natasha menatap Audrey bingung.
“Eh, emang Sasha ngerti siapa itu Pak Jin Bottle?” Audrey bergumam sendiri, lalu tertawa lagi. “Pak Jin Bottle itu julukan anak-anak buat Pak Kepsek. Soalnya dia badannya gede, gemuk, botak. Dan suka tiba-tiba nongol entah dari mana. Mirip jin botol, hahaha …”
Natasha ikut tertawa canggung meski dia tidak begitu paham. Lah gue belum pernah ketemu Pak Kepsek.
“Atau … mungkin karena ini hari pertama kamu di sekolah baru, makanya deg-degan terus?” tebak Audrey.
Eh, iya juga ya, batin Natasha, gue gak kepikiran.
“Bisa jadi, ya? Tapi aku baru deg-degan semenjak dari rumah kaca.”
“Rumah kaca?” tanya Audrey heran. “Ah!” ia tiba-tiba berteriak.
Kevin kembali dari pura-pura tidurnya dan menatap Audrey.
“Nat, mending jangan ngobrol sama dia deh. Ntar kamu ketularan penyakit gaje-nya,” bisik Kevin kepada Natasha.