Luminescence: Under the Same Sky

Avarreon
Chapter #3

3 - Mungkin Memang Bukan Cinta

Di sepanjang perjalanan, pikiran Natasha tetap kalut dengan perasaannya sendiri. Jantungnya masih berdegub-degub tiap teringat semua yang terjadi padanya hari ini. Pertemuannya dengan kakak kelas di rumah kaca, wajah berseri-seri Audrey …

Kenapa kebayang terus sih mukanya? batin Natasha. Betewe yang asli yang mana. Di ruang SS tadi dia kayak beda banget. Apa mungkin jangan-jangan sudara kembar? Ah iya. Kan Rey dan Kevin tadi menyebut dua nama berbeda. Jadi mungkin aja emang dua orang yang berbeda.

“Sore, Natasha,” sapa Bu Nia saat Natasha membuka pintu asrama.

“Oh, sore juga Bu Nia.”

“Kok udah balik?” Bu Nia menatap Natasha penasaran.

Natasha tersenyum sambil melangkah mendekat. “Iya, Bu. Kan sekolahnya udah kelar.”

“Nggak main dulu? Udah dapat teman belum?”

“Hehe, udah Bu. Tadi kenalan sama Rey dan Kevin.”

Bu Nia menatap Natasha dengan penuh minat. “Rey? Audrey? Si bule itu?” tanyanya. Natasha mengangguk. “Wah, rame anak itu. Tapi dia baik kok. Kamu yang akrab ya. Ngomong-ngomong Audrey sama Kevin itu emang selalu lengket berdua ya. Mereka pacaran?”

“Hah?!” Natasha terkejut dengan pertanyaan Bu Nia. “Pa-pacaran? Rey sama Kevin?”

“Lho, saya nanya kok balik ditanya, hehe. Soalnya saya perhatikan mereka berdua itu sering banget ke mana-mana berdua, jadi saya kira pacaran. Si Audrey saya tanya juga reaksinya sama kayak kamu. Jadi nggak pacaran, toh?”

Natasha tersenyum kikuk. “Setahu saya sih nggak, Bu. Rey kan naksirnya sama kakak kelas di SS …?”

Bu Nia sedikit membelalakkan mata. “Lho, iya? Sama siapa?” Bu Nia kembali bersemangat.

Wah, ni orang kayaknya hobi gosip deh, batin Natasha.

“Emm … siapa ya? Saya juga gak tahu namanya. Cici? El? Kalau gak salah Rey sama Kevin nyebutnya begitu. Anak kembar ya, Bu?”

Kok gue rasanya nyesek sendiri ya? batinnya sambil sedikit tersenyum simpul.

“Cici? El? Siapa … gak ada anak kembar di SS setahu saya …” Bu Nia mengingat-ingat. “Oohhh …!” setrunya tiba-tiba, membuat Natasha menatapnya sedikit terkejut.

“Oalah … Luciel, toh. Iya? Luciel mah cuma satu orang. Tapi emang itu anak sifatnya gak jelas. Kata guru-guru itu anak punya kepribadian ganda, hahaha,” jelas Bu Nia seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

Luciel? Jadi itu nama kakak kelas itu? Dan dia bukan anak kembar … Rasanya … seneng sih, gue akhirnya tahu namanya. Tapi ternyata bukan anak kembar toh?

“Bu Nia tahu orangnya?” Natasha penasaran.

“Si Luciel? Ya tahu lah. Satu sekolah juga tahu siapa dia. Kan dia ketuanya SS, bahkan sejak tahun lalu, masih kelas 1 langsung terlikih jadi ketua. Ini dia sudah 2 kali masa menjabat. Katanya, kalau habis ini dia kepilih lagi, semester depan dia bisa 3 periode,” jelas Bu Nia. “Lagi pula, cuma si Luciel yang berani bikin Pak Marco, itu, Wakasek tata tertib, di-skors 1 bulan. Yang naksir Luciel juga banyak …” Bu Nia tampak bersemangat.

Natasha hanya menyimak sambil menggut-manggut.

“Kamu kalau sudah ketemu Luciel pasti juga ikutan naksir, hahaha. Natasha sudah pernah ketemu, belum?” lanjutnya.

Muka Natasha langsung memerah mendengar pertanyaan Bu Nia.

“Em … be-belum, kok. Saya gak tahu orangnya yang mana,” jawabnya bohong. “Saya mau balik ke kamar dulu ya, Bu.”

Lihat selengkapnya