Luminescence: Under the Same Sky

Avarreon
Chapter #4

4 - Student Security

Hari Sabtu yang ditunggu-tunggu itu tiba. Jam menunjukkan pukul 2 siang ketika Natasha sedang mengikuti pelajaran produktif-kejuruan di Ruang Musik.

Tiba-tiba, suara bapak-bapak memberikan pengumuman terdengar dari speaker yang terpasang di setiap ruang kelas.

“Selamat siang. Mohon waktunya sebentar. Bagi siswa-siswi yang namanya saya sebutkan, harap berkumpul di depan Ruang Student Security sepulang sekolah.”

Jantung Natasha tiba-tiba berdegup kencan ketika nama-nama mulai dibacakan satu per satu. Natasha menggigit bagian bawah bibirnya, menahan napas.

Beberapa nama mulai disebutkan.

“Kevin Johan, Musik 1-2.”

Jangan sampai namaku dipanggil … batinnya.

“Audrey Sharon, Rupa 1-2.”

Dan beberapa nama kemudian—

“Natasha Renata Anastasha, Musik 1-2.”

Deg! Jantung Natasha seolah-olah berhenti sesaat. Nama gue dipanggil? batinnya. Beberapa hari terakhir, ia sudah pesimis bahwa dirinya akan lolos. Sebagai murid baru, ia bahkan tidak yakin akan mendapat kesempatan untuk bisa masuk ke SS. Kevin dan Audrey juga terpilih.

“Sasha ikut SS?” tanya Billy yang duduk di sampingnya dengan raut muka agak terkejut. Dia dari kelas 1-4 dan sejak awal selalu mencari kesempatan untuk duduk di samping Natasha tiap kali pelajaran Seni Musik.

“Iya, gak nyangka bisa kepilih,” jawab Natasha sambil tetap menatap guru di depan.

“Ngapain sih, ikut SS?” Billy terus bertanya.

 Natasha hanya menanggapinya dengan senyum. Ngapain sih ni anak hobi nanya-nanya mulu dari dulu? Kepo banget.



Tepat pukul 3 sore, bel yang menunjukkan akhir jam pelajaran pun berbunyi.

Kumpul ke basecamp SS, ya? Nunggu Rey sama Kevin atau gue duluan aja, ya? ... Kevin sih di kelas sebelah. Kalau Rey aku gak tahu kelasnya di mana. Duluan aja deh, toh entar juga ketemu … batin Natasha.

Natasha segera membereskan barang-barangnya, menghiraukan Billy yang sejak tadi berusaha mengajaknya mengobrol. Dengan cepat, ia meninggalkan ruang kelas dan berjalan ke kompleks bangunan dekat kantin.

“Belum ada orang?” gumamnya saat melihat halaman kecil di depan bangunan Ruang SS masih tampak lengang. “Masa gue telat? Lah, bel baru bunyi juga. Masa sih udah telat? Kevin juga gak kelihatan,” Ia lalu memandang Ruang Musik yang tak jauh dari tempatnya kini berdiri. “Kayaknya gue yang kecepetan aja sih,” gumamnya lalu duduk di bangku di samping halaman depan Ruang SS, memutuskan untuk menunggu Audrey dan Kevin.

“Ikut SS?” sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya dari belakang.

“Iya, Kak,” jawabnya sambil menoleh ke arah sumber suara.

Deg. Kak Luciel …

“Lho? Kita pernah ketemu, kan? Kamu si stroberi?” Luciel tersenyum simpul sambil ikut duduk di samping Natasha.

Jantung Natasha tiba-tiba berdegup dengan sangat kencang. Kok gue jadi takut, ya? batinnya sambil diam-diam sesekali mencuri pandang ke Luciel.

“Iya, hehe … masih ingat aja, Kak?” Natasha berusaha menutupi kegugupannya.

“Masih dong. Memorable banget, haha … Oh iya, sekali lagi, maaf, ya, waktu itu …” jelas Luciel sambil tertawa.

Natasha mengalihkan tatapannya, mencoba mengendalikan detak jantungnya yang gak karuan.

“Bukannya kamu masih murid baru, ya?” lanjut Luciel.

“Iya, Kak. Tapi tadi namaku ikut dipanggil.”

“Oh ya? Emang siapa nama kamu?”

“Natasha, Kak. Biasa dipanggil Sasha.”

Luciel tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Kei, kelas 2-1, jurusan Seni Rupa. Banyak yang bilang aku manusia setengah dewa. Padahal aslinya dua per tiga dewa, mirip Gilgamesh, haha,” ujarnya dengan nada menggoda sambil menahan senyum geli.

“Kei?” tanya Natasha heran. Bukannya namanya Luciel ya? Dan apa pula itu manusia setengah dewa? Gilgamesh? Siapa pula itu?

Luciel mengangguk sambil tersenyum menatap Natasha. “Kamu dari kelas dan jurusan apa?”

“Oh iya, kelas 1-2, Kak. Jurusan Musik.”

“Hmm … berarti jago nyanyi, dong?” Luciel menatap Natasha dengan antusias. Natasha menggeleng malu-malu.

“Lho? Kalau gak jago nyanyi kok bisa masuk Musik?”

“Musik kan gak harus nyanyi, Kak. Aku bisa main alat musik,” jelas Natasha setengah sebal, tapi rupanya rasa gugupnya sudah hilang. Tunggu, gue ngobrol sama Kak Luciel?

“Main alat musik apa?”

“Emm … piano, aku bisa sedikit biola juga.”

“Wah, keren tuh. Lain kali duet yuk. Aku yang nyanyi, kamu yang ngiringin pakai piano,” mendengarnya, Natasha menatap Luciel dengan lebih tertarik.

“Kak … emm… Kei … jago nyanyi? Bukannya Kak … Kei … anak Seni Rupa?”

Rasanya aneh banget nyebut namanya, sebenarnya namanya Luciel atau bukan sih? batinnya.

Lihat selengkapnya