Hari ini hari Kamis, sudah lebih dari 1 minggu sejak UTS berakhir, dan hari ini adalah waktunya pengumuman peserta yang lolos seleksi Student Security.
Natasha telah berhasil memenuhi semua standar nilai, begitu pula Audrey dan Kevin. Surat izin untuk mengikuti diklat SS sudah dikirimkan ke orang tua masing-masing sejak satu minggu yang lalu. Baik Audrey dan Kevin sudah mendapat izin. Natasha? Masih menggantung. Sampai sekarang.
Hari Selasa minggu lalu, setelah nilai UTS keluar, Natasha menghabiskan waktu sepulang sekolahnya untuk berleha-leha di kamar asrama. Tiba-tiba, ponselnya berdering.
“Halo? Mama?” Natasha mengangkat teleponnya.
“Hai sayang, lagi ngapain?” suara mamanya terdengar bersemangat, seperti biasa.
“Emm, gak ngapa-ngapain. Kayak biasanya, baca komik …”
“Kamu gak ikut ekskul? Dulu mama dengar dari Pak Roby katanya semua siswa wajib ikut ekskul, dan jam eksulnya pulang sekolah?”
“Belum, Ma, masih bingung.”
“Kok gitu? Oh ya, Mama dapat surat dari sekolah kamu. Surat izin diklat. Ini apa ya, Sha?” suara Mama Natasha mulai terdengar serius.
“Oh, itu diklat buat SS,” jawab Natasha sambil menutup buku komiknya dan berjalan ke jendela. Matanya mencari-cari sosok yang kemarin tanpa sengaja dilihatnya duduk sendirian di lantai 1 bangunan sebelah.
“SS itu kalau gak salah siswa tatib itu bukan?”
Natasha ingin tertawa mendengar pertanyaan mamanya. Siswa tatib katanya …
“Iya Ma, yang itu …”
“Oh, Sasha mau ikut itu? Tapi kok harus ada surat izin orang tua segala? Pakai meterai lagi.”
Meterai? Kok gue gak tahu? batin Natasha bingung.
“Emangnya diklatnya itu ngapain, Sha? Bahaya gak?” lanjut Mama Natasha
“Gak tahu juga sih, Ma.”
“Sekarang Mama tanya, kamu beneran mau ikut itu? Emang bagusnya apa sih, Sha?”
Yah, mulai lagi deh mode interogasi Mama, batin Natasha. Suka kepo deh. Kalau udah pengen tahu gini, pasti bakal digas terus sampai puas.
“Bagusnya? Katanya sih anggota SS bisa dapet privilege khusus di sekolah …”
“Privilege? Emangnya apa?”
Privilege ya … jangan-jangan … batin Natasha, teringat percakapannya dengan Luciel di rumah kaca.
“Gak tahu lah, Ma. Kita gak dikasih tahu apa-apa. Kan belum jadi anggota. Cuma katanya aja gitu, dapat privilege khusus,” jawabnya.
Kalau gak salah Kak Luciel bilang bisa gak ikut kelas. Gak mungkin sih gue bilang gini. Bisa-bisa gak bakal dibolehin ikut, batinnya sambil terus memandang keluar jendela.
Saat itu, matanya menangkap sosok yang kemarin dilihatnya sedang duduk di tempat yang sama, menaruh secangkir minuman di meja, lalu membuka laptopnya.
“Oh gitu, yaudah deh. Tapi Mama tanya, Sasha serius mau ikut itu?” Mama Natasha terdengar ragu-ragu.
“Ya … kalau Mama ngizinin sih,” jawab Natasha juga ragu.
“Iya deh, tapi Mama tanya Papamu dulu ya.”
“Iya Ma …”
“Yaudah Mama tutup. Kamu sekali-kali belajar kek, jangan baca komik terus,” kata Mama Natasha dan langsung menutup teleponnya.
Sambil tertawa, Natasha berjalan kembali ke tempat tidurnya, tanpa tahu bahwa sosok di bawah sedang melihat balik ke arahnya.
Beberapa hari sejak telepon itu, Natasha tidak mendapat kabar apa pun.