Terlihat pintu Ruang SS terbuka lebar. Audrey dan Natasha berhenti di depan pintu, mendapati banyak anggota SS yang berkumpul di dalam.
“Eh, kamu …” Udin menepuk bahu Natasha dari belakang, mengagetkan Natasha dan Audrey.
“Kak Udin,” refleks Natasha menyebut nama si kakak kelas.
Udin menyengir lebar. “Nyari siapa? Kei?” tanyanya.
“Bu … eh—”
“Sayaaangg … Kei sayang …” Udin tiba-tiba berteriak ke dalam ruangan, memotong ucapan Natasha. “Ada yang nyariin kamu nih, mau minta foto bareng, katanya.”
Teriakan Udin membuat wajah Audrey dan Natasha kompak memerah. Anggota SS yang mendengar teriakan Udin sontak tertawa dan mencari-cari keberadaan sosok yang dimaksud.
Luciel berjalan dengan sebal dari ruangan kecil di sebelah Ruang SS sambil memicingkan matanya ke arah Udin. Tatapannya lalu beralih ke Audrey dan Natasha.
Tanpa sadar, Audrey menggenggam erat tangan Natasha saat Luciel berjalan malas ke arah mereka.
“Kenapa?” tanya Luciel datar. Tatapannya mengarah ke Udin, lalu Audrey, mengabaikan Natasha.
“Em … mau … ngembaliin ini, Kak,” jawab Audrey gugup.
Luciel memicingkan matanya lagi, bingung. Ia meraih buku bersampul coklat itu dari tangan Audrey.
“Ngembaliin ini?” tanya Luciel. Audrey mengangguk.
“Memangnya habis kamu colong?” tanyanya lagi dengan nada dingin. Audrey tampak terkejut.
“Em … eng … enggak, Kak. Itu tadi ketinggalan di Lab Bahasa,” jawab Audrey dengan masih gugup.
“Kalau itu namanya bukan ngembaliin. Tapi nganterin. Beda. Bisa bedain gak sih?!” jelas Luciel. Audrey hanya mengangguk-angguk.
Natasha melirik sepintas, tampak sorot mata Audrey yang tadi tampak berbinar-binat kini sedikit takut.
Kak Luciel bisa marah? Tapi masalah gini doang dia marah? Ini serius Kak Luciel? batinnya sambil melirik Luciel yang tetap mengabaikan keberadaannya.
“Emang ini buku punya siapa?” tanya Luciel saat Audrey tetap diam
“Kalau gak salah punya Kak Rianna,” jawab Audrey pelan.
“Terus ngapain panggil saya? Emang nama saya Rianna?!” nada suara Luciel sedikit meninggi. Audrey tetap diam sambil menunduk.
“Yang manggil kan Kak Udin. Kita gak ada ngomong mau cariin Kak Luciel. Kenapa Kakak jadi marah?!” Natasha akhirnya bersuara.
Untuk pertama kalinya, Luciel menatap Natasha. Sepintas Natasha melihat beberapa anggota SS di belakang mengacungkan jempol kepadanya.
“Saya gak marah,” Luciel menjawab dengan tetap dingin, sambil mengalihkan tatapannya dari Natasha. Ia lalu menjejalkan buku itu lagi kepada Audrey. “Balikin sendiri,” lanjutnya sambil berjalan pergi dan kembali menghilang di ruangan sebelah.