Luminescence: Under the Same Sky

Avarreon
Chapter #7

6 - Bukan Begitu Seharusnya

Sudah pukul 10 malam. Natasha bolak-balik di tempat tidurnya, gelisah entah karena apa.

Kruuukk … tiba-tiba perutnya berbunyi.

Kok jadi laper ya? batinnya sambil memandang sekeliling, melihat Andien dan Jihan sepertinya sudah tertidur lelap.

Dengan berjinjit pelan, ia meraih mie cup instan di lacinya dan berjalan keluar. Asrama sudah sepi karena memang sudah lewat jam malam.

Natasha menaruh mie cupnya di atas meja dapur, dan berjalan ke lobby depan untuk meminta izin kepada Bu Nia atau Pak Akor, suaminya.

“Gak ada orang?” tanyanya heran. Matanya tertuju pada pintu masuk yang sedikit terbuka.

Ngintip bentar ah, batinnya sambil melongokkan kepala. Tanpa sadar, ia malah berjalan keluar. Baru beberapa langkah menuju belakang asrama, ia tiba-tiba mendengar suara orang sedang berbicara. Refleks, Natasha bersembunyi di balik semak hydrangea di pinggir jalan.

Kalau ketahuan mampus sih gue, bisa-bisa malah kena hukuman dan gak boleh ikut diklat besok, batinnya sambil menahan napas.

Ia mengintip dari celah dedaunan hydrangea yang lebat.

Pak Jo? batinnya. Ngapain Pak Kepsek malam-malam begini?

Ia menyipitkan matanya untuk melihat sosok lain yang berdiri di hadapan Pak Jo. Kak Luciel?

“Mama kamu telepon saya tadi siang,” suara Pak Jo terdengar berat. “Katanya kamu gak pernah angkat teleponnya.”

“Memang,” jawab Luciel singkat. Pak Jo menghembuskan napas berat.

“Kenapa gak mau angkat?”

“Gak penting.”

“Kakakmu masuk rumah sakit. Habis kecelakaan,” Pak Jo menatap mata Luciel.

“Bohong. Pasti abis dikeroyok orang lagi,” balas Luciel dingin.

“Sekali-kali bicaralah sama orang tuamu, jangan kabur terus.”

“Saya gak kabur. Gak ada yang perlu dibicarakan juga.”

Pak Jo diam sejenak. “Kamu gak akan selamanya tinggal di sini, Kei. Bentar lagi kamu juga naik kelas 3. Terus kamu mau gimana?”

“Saya pikirin nanti.”

Pak Jo menatapnya beberapa saat. “Kamu bahkan gak pernah pulang waktu liburan. Kamu tahu saya gak pernah melarang kamu pulang.”

Luciel menatap Pak Jo. “Saya tahu.”

“Terus?”

Luciel mengangkat bahu. “Saya gak mau pulang.”

Pak Jo menatap Luciel lekat, lalu mendesah. “Ya sudah, terserah kamu,” katanya sambil menepuk bahu Luciel dan berjalan pergi. Tak lama, Luciel ikut berjalan kembali ke arah asrama laki-laki.

Itu … apa? batin Natasha bingung.

Dengan langkah hati-hati, ia berjinjit kembali ke asrama.

Huh, syukurlah, masih gak ada orang, batinnya lalu bergegas kembali ke kamarnya.



Suara getaran ponsel membangunkan Natasha. Dengan mata yang masih sedikit terbuka, ia menatap layar ponselnya.

“Jam setengah empat?!” suara Natasha tercekat tak ingin membangunkan teman sekamarnya.

Lihat selengkapnya