LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #1

Prolog: Kota yang Memantulkan Luka

 

Rintikan hujan menggurat kaca-kaca gedung tinggi, seperti urat nadi kota yang tak pernah tidur. Billboard LED raksasa memantulkan cahaya biru ke jalanan basah, menyorot orang-orang yang bergerak cepat tanpa menoleh ke samping. Di kota ini, setiap wajah adalah cerita yang tak sempat diucapkan. Dan bukan cinta yang menggerakkan mereka—melainkan luka-luka yang mereka peluk diam-diam.

Di antara riuh mesin dan hiruk pikuk malam, seorang lelaki muda berjalan dengan langkah terukur, sementara sorot matanya menyimpan redup yang tak sempat ia sembunyikan. Ron, jurnalis media lokal, memanggul kameranya seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam. Terbiasa merekam tragedi orang lain, ia justru tak pernah berhasil menyelamatkan ceritanya sendiri.

Sembari menarik napas, Ron menatap ke langit malam yang pekat. "Billboard malam ini seperti mau jatuh menimpa kita semua…"

Kamera dingin di tangannya menangkap pantulan cahaya biru neon di genangan air kotor di bawah kakinya. …atau mungkin cuma aku yang merasa berlebihan, pikirnya; batinnya terdengar lelah bahkan di tengah kebisingan kota.

Namun di Kota Billboard, tidak ada yang benar-benar berlebihan. Kota ini memang begitu—memantulkan hal-hal yang disembunyikan manusia jauh di dalam dada. Sesuai namanya, wajahnya selalu tampak sempurna: senyum raksasa yang menyala di udara malam. Tapi di balik cahaya itu, ia menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang berani diakui siapa pun.

Dan Ron… menyimpan kegagalan yang bahkan dirinya sendiri tak sanggup hadapi sepenuhnya.

Tak jauh dari sana, langkah kaki seorang perempuan muda terdengar ringan namun terukur. Dialah Vini. Di balik nama yang memilihnya bertahan hari ini, tersimpan sejarah kelam yang tak pernah ia ceritakan. Jaket kulit hitam membalut tubuhnya yang langsing namun tegap. Sepasang mata yang indah, kini penuh kewaspadaan, menatap tajam ke setiap sudut—mencari ancaman yang luput dari pandangan mata orang biasa.

Rambut yang menutupi wajahnya disibakkan pelan. Hari ini lagi-lagi penuh orang sok kaya, pikir Vini dengan nada lirih. Langkahnya terhenti di bawah billboard raksasa yang menampilkan foto wajahnya sendiri; kampanye fashion terbaru.

Ironi hidup, batinnya, saat pandangannya naik ke foto itu di layar raksasa. Tersenyum manis. Mata berbinar. Cahaya sempurna. Padahal dirinya yang nyata lebih mirip bayangan rapuh yang berusaha tetap tegak meskipun dunia berulang kali mendorongnya ke tanah.

Dari sudut trotoar, Ron menangkap sosok perempuan itu berdiri sendirian di bawah billboard. Gerakannya nyaris tak ada—seolah sedang menahan sesuatu yang berat, atau baru saja kehilangan sesuatu.

Langkahnya terhenti; kamera di tangannya perlahan diturunkan.

“…itu pasti dia.”

Lihat selengkapnya