Malam turun lebih cepat di Kota Billboard, seakan langit pun tak sanggup menahan beratnya lampu-lampu raksasa. Cahaya neon menari di jalanan yang basah; kendaraan melintas seperti kilatan mimpi buruk yang berulang. Di tengah gemerlap itu, pemotretan berlangsung di bawah billboard yang menampilkan poster wajah Vini dalam versi terbaiknya—senyum tanpa luka, mata tanpa kenangan.
Namun Vini yang berdiri di trotoar bukanlah perempuan di layar itu. Yang satu adalah citra, yang lain adalah manusia yang sedang mencoba belajar bernapas lagi.
Sambil memeriksa lensa kamera tim pemotretan, Clarissa berseru, "Vin, angle kanan. Lampunya jatuh bagus di sisi itu."
Vini mengangguk pelan. "Oke," balasnya.
Vini bergerak dengan presisi profesional. Lengan, dagu, pundak—semuanya tahu harus berada di mana. Tetapi sorot matanya tetap menjaga jarak dari semua orang, seakan ia menari di dalam sangkar kaca yang hanya dirinya yang bisa lihat.
Ron memperhatikan dari belakang tim, memegang kameranya seperti seseorang yang ingin menangkap sesuatu yang jauh lebih halus daripada pose model. Matanya tidak melihat wanita cantik, melainkan detak halus tubuh Vini yang menyembunyikan badai. Ini adalah badai yang dikenali Ron. Badai yang pernah ia lihat pada mata lain, tepat sebelum pandangan itu padam selamanya.
Ron perlahan mendekat, suaranya diturunkan. "Kalau kamu tidak keberatan, aku mau ambil beberapa shot candid. Buat artikel pengantar."
Vini menoleh sedikit, matanya redup tapi tajam. "Kalau fotonya jelek, jangan salahkan modelnya."
Ron tersenyum. "Kalau jelek, itu salah fotografernya."
Senyum kecil muncul di sudut bibir Vini. Hampir tak terlihat, namun Clarissa menangkapnya.
Clarissa menyikut Vini pelan. "Vin... kamu jarang senyum kayak gitu. Hati-hati nanti ada yang baper."