Vini menyandarkan punggungnya pada tiang beton penyangga billboard, menyilangkan tangan di dada. Itu bukan pose angkuh model profesional, melainkan gestur pertahanan diri—benteng emosional untuk melindungi sisa-sisa energinya.
"Pertanyaannya apa?" tanyanya datar.
Ron membuka buku catatan kecilnya. Namun, ia tak langsung menulis. Ia memandang Vini dulu—seakan ingin memastikan nadanya tepat sebelum merusak keheningan. "Apa yang membuatmu mulai menjadi model?"
Vini tertawa singkat. Suara tawa itu kering dan pahit. "Itu pertanyaan standar. Biasanya dijawab dengan ‘aku suka dunia fashion sejak kecil’ atau ‘aku ingin menginspirasi wanita lain.’" Ia menatap lurus ke jalanan yang mulai sepi. "Tapi bukan itu jawabanku."
Ron mencondongkan tubuh sedikit, tapi tetap menjaga jarak profesional agar tidak memicu alarm bahaya Vini. "Lalu apa?"
Vini mengangkat bahu, hampir tak terlihat. "Aku cuma… ingin bertahan hidup."
Ron tidak menulis apa pun. Pena di tangannya menggantung di udara. Kata itu—bertahan hidup—terasa terlalu berat untuk diikat dengan tinta di atas kertas murah. Itu bukan ambisi. Itu naluri—naluri hewan buruan yang hanya tahu satu hal: tetap hidup sebelum predator menemukan jejaknya.
Vini meliriknya, alisnya terangkat sebelah. "Kamu nggak menuliskannya?"
"Aku hanya menulis kalau kamu ingin kata itu dicatat untuk publik."
Vini menatapnya lebih lama daripada sebelumnya. Ada sesuatu yang retak di tatapan dinginnya, tapi bukan hancur—lebih seperti pintu yang terbuka selebar satu jari.
"Terserah," gumam Vini, memalingkan wajah. "Hidup bukan sesuatu yang bisa kupakai sebagai slogan iklan sabun."