LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #5

Hening di Ruang Redaksi

Di lantai 12 gedung tua tempat kantor media lokal berdiri, Ron menatap layar komputernya. Ruang redaksi penuh tumpukan kertas, poster liputan lama, dan aroma kopi sisa shift sore yang pahitnya tertinggal di udara.

Ia baru saja menyelesaikan pengeditan beberapa foto. Satu tangan bertahan di mouse, tangan lain memegang gelas air dingin yang tak ia sentuh sejak tadi.

Ron memperhatikan layar.

Dia… kelihatan berbeda. Bukan model biasa.

Ia memperbesar salah satu foto Vini. Pose sederhana, tatapan kosong yang justru terasa penuh. Di belakangnya, kota memantulkan warna biru dan merah neon. Foto itu terasa jujur—terlalu jujur. Seperti pengakuan yang seharusnya tidak ia tangkap.

Ron mendekatkan wajah ke layar.

Kenapa kayak ada… luka di balik matanya?

Ia mengusap wajah, menghela napas pelan, seolah mencoba menenangkan degup jantungnya sendiri.

Besok dia masih ada job yang sama nggak, ya? Kalau ada…

Ia berhenti. Jemarinya menggantung di atas keyboard.

…mungkin bisa sekalian wawancara lanjutan.

Alasan yang terdengar rapi. Terlalu rapi.

Ron tahu ia sedang mencari pembenaran.

Gesekan kursi dari meja sebelah memecah lamunannya.

“Bro,” sapa Arman, rekan satu bilik sekaligus sahabat kuliah Ron yang paling pragmatis. “Gimana liputan model-model tadi? Ada wajah baru kota yang oke?”

Ron tersentak kecil. “Ah… ya. Ada satu—namanya Vini.”

Arman menyeringai. “Vini? Model baru itu? Wih… Clarissa bisa kalah saing, tuh.”

Ron tidak menanggapi. Matanya tetap ke layar. “Dia beda.”

“Bedanya gimana?”

Ron berpikir sejenak. “Cara dia… kayak sembunyi, tapi nggak sepenuhnya sembunyi.”

Lihat selengkapnya