Beberapa minggu menguap begitu saja setelah malam di bawah billboard itu. Kota tetap bergerak dengan ritme yang tak peduli: deru mobil, kedip lampu neon yang memabukkan, dan berita kriminal kecil yang timbul tenggelam di layar kaca. Bagi kota ini, manusia hanyalah bahan bakar yang bisa diganti kapan saja.
Vini menjalani harinya dalam putaran yang membosankan sekaligus melelahkan sebagai model freelance. Pemotretan komersial, fashion lookbook, hingga menjadi wajah baru untuk kampanye merek lokal. Ia tersenyum di depan lensa, memutar tubuh, dan membiarkan cahaya blitz menghapus identitas aslinya bingkai demi bingkai.
Namun, ada satu hal yang mengganggunya. Sesuatu yang ganjil.
Bukan tekanan pekerjaan. Bukan jadwal yang mencekik. Bukan pula persaingan dingin dengan Clarissa.
Melainkan bayangan seorang jurnalis dengan kamera tua. Laki-laki yang menatapnya bukan sebagai objek yang harus dijual, melainkan sebagai manusia yang sedang memikul beban. Tatapan itu menolak pergi dari kepala Vini, melekat seperti residu mimpi buruk yang anehnya... menenangkan.
Di ruang ganti yang sempit, Vini menghapus riasan wajahnya dengan kasar. Kapas di tangannya kini berwarna cokelat kotor, sisa fondasi yang menutupi lelah di wajahnya.
"Kenapa aku mikirin dia, sih?" desis Vini pada pantulan dirinya sendiri di cermin. "Dia cuma jurnalis, Vini. Fokus."
Tiba-tiba, sebuah tangan dengan kuku terawat mendarat di bahunya. Vini tersentak, refleks tubuhnya menegang—sisa trauma masa lalu yang selalu siaga.
Di cermin, wajah Clarissa muncul di balik bahunya, bibirnya menyunggingkan senyum miring yang tak sampai ke mata.
"Aku perhatikan kamu beberapa hari ini aneh, Vin," ujar Clarissa pelan, nadanya seperti ular yang mendesis ramah. "Suka menoleh ke belakang. Kayak lagi... mencari seseorang di kerumunan?"
Vini buru-buru menetralkan ekspresinya. Ia memutar bola mata, kembali menggosok pipinya. "Clar, tolong deh. Aku sibuk. Aku nggak punya waktu buat mikirin siapa-siapa."
"Oh, ya?" Clarissa tertawa kecil, suara yang terdengar tajam di ruangan sunyi itu. "Hmm... Bukannya kemarin kamu sempat salah kira? Waktu pemotretan outdoor itu, kamu hampir lari mengejar fotografer magang karena kamu pikir itu si Ron, kan?"
Gerakan tangan Vini terhenti.
Vini terdiam, membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara yang berbau hairspray dan parfum mahal. Clarissa benar. Sialan, dia benar.
Ingatan Vini melompat ke dua hari lalu. Saat jeda pemotretan, ekor matanya menangkap siluet seseorang yang mengangkat kamera di kejauhan. Postur tubuhnya, caranya memegang lensa, bahu yang sedikit membungkuk... semuanya meneriakkan satu nama yang belakangan ini menghantui tidurnya.
"Ron?" bisiknya waktu itu, suara yang lolos tanpa izin.
Namun, ketika orang itu menurunkan kamera dan cahaya matahari menimpa wajahnya, ilusi itu pecah. Itu hanya seorang fotografer magang dengan jerawat di pipi. Bukan Ron.
Saat itu, Vini merasakan sesuatu yang ganjil di perutnya. Rasa lega karena ia masih aman dalam persembunyiannya, bercampur dengan rasa kecewa yang tajam—seperti seseorang yang berharap ditemukan, tapi dunia menolak melihatnya.