‘Studio 9’ adalah definisi dari kesempurnaan artifisial. Ruangan luas itu dikelilingi cermin setinggi langit-langit, memantulkan setiap gerakan hingga tak ada cacat yang bisa disembunyikan. Cahaya lampu putih bersih menyorot tajam, membuat kulit siapa pun terlihat lebih pucat dari aslinya. Di lantai, selotip warna-warni baru saja direkatkan pagi itu, menandai jalur catwalk imajiner.
Suara sepatu heels mengetuk lantai kayu menggema beraturan, bersahutan dengan suara manajer yang memeriksa daftar peserta, dan sesekali tawa Clarissa yang keras memecah udara dingin ber-AC.
"Vin, hari ini batch baru lumayan ramai," ujar Clarissa sambil mengetuk-ngetukkan pena ke papan klip di tangannya. Matanya memindai ruangan dengan tatapan predator yang menilai mangsa. "Ada beberapa anak manis, tapi tetap... harus kamu yang turun tangan di bagian dasar. Mereka butuh contoh dari 'sang bintang'."
Vini menghela napas lembut, merapikan rambutnya di depan cermin. "Iya. Aku bisa."
Namun jauh di dalam hati, Vini merasa hari ini berbeda.
Entah karena lampu studio yang terasa terlalu menyilaukan. Entah karena ruangan ini terlalu bising. Atau mungkin, karena setiap kali pintu studio terbuka, jantungnya melonjak kecil. Ia diam-diam berharap seseorang dengan kamera tua dan jaket lusuh muncul di ambang pintu... sebuah harapan bodoh yang mati-matian tidak ingin ia akui.
BRAK!
Pintu studio terbuka keras, menghantam dinding karet penahan. Lamunan Vini pecah seketika.