Pintu kaca studio kembali terbuka.
Ron melangkah masuk. Kartu pers tergantung di leher, kamera tua yang familier tergantung di bahu. Ia berusaha mengatur langkahnya agar tampak santai—seolah ini hanyalah liputan rutin yang membosankan—namun matanya mengkhianati segalanya.
Seperti radar yang sudah diprogram, tatapan Ron langsung menyapu ruangan dan berhenti tepat di satu titik.
Vini membalikkan badan, seolah merasakan perubahan tekanan udara di belakangnya.
Dan saat tatapan mereka bertemu, dunia di sekitar mereka seakan melambat. Suara sepatu hak tinggi dan tawa peserta lain memudar menjadi latar belakang yang bising. Sesuatu yang tak kasat mata namun berat berpindah di udara: sebuah kelegaan karena penantian berakhir, kerinduan yang samar, dan perasaan "akhirnya" yang membuat dada sesak.
"WOHOO! RON!!"
Teriakan Clarissa membelah momen sakral itu seperti petir di siang bolong.
"Nih orang akhirnya muncul juga!" Clarissa berjalan mendekat dengan langkah lebar, menyeringai lebar. "Baru tiga minggu nggak ketemu, udah kangen berat ya, Pak Wartawan?"
Ron tersedak ludahnya sendiri, langkahnya goyah. "Eng—bukan... aku cuma ada jadwal liputan—"
"Liputan berita, atau liputan hatimu sendiri?" potong Clarissa jahil.
"Clar..." tegur Vini pelan, pipinya terasa memanas meski ia berusaha memasang wajah datar.
Ron berdeham keras, berusaha mengumpulkan sisa-sisa wibawanya. Ia mengangguk sopan ke arah Vini. Vini membalasnya dengan anggukan kecil—salah satu gestur paling lembut yang pernah Clarissa lihat dari model sedingin Vini.
Okky, yang sejak tadi menonton drama kecil itu, memindai Ron dari atas ke bawah dengan rasa ingin tahu yang tak terbendung.
"Kak Clarissa, ini siapa?" bisik Okky keras-keras. "Fotografer baru? Atau aktor?"
Okky menutup mulutnya, matanya membulat. "Atau jangan-jangan... pacar Kak Vini?"
"OKKY!!" pekik Vini refleks, suaranya naik satu oktaf.
Ron mematung di tempat, wajahnya memerah padam hingga ke telinga. Sang 'Ahli Puzzle' kehilangan semua kosa katanya. "Aku... Ron. Jurnalis. Cuma jurnalis."
"OOOOHHHHH~~!!" Okky mengangguk-angguk paham, mulutnya membentuk huruf O besar. "Kakak wartawan! Berarti Kakak yang mau bikin Kak Vini terkenal, ya? Wah, pahlawan dong!"
Ron menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, salah tingkah. "Aku... ya, anggap saja aku cuma tukang catat."