Hujan mulai turun deras, membungkus Kota Billboard dalam selimut suara statis yang tebal. Malam seketika berubah menjadi cermin gelap, berpadu dengan cahaya neon biru dan merah darah. Jalanan basah berulang kali memantulkan warna-warna itu, seolah dunia sedang merayakan dua rasa yang saling bercampur: keindahan yang kejam dan kegelisahan yang membius.
Di bawah kanopi kaca lobi gedung pelatihan, Ron dan Vini berdiri. Studio 9 telah lama gelap, meninggalkan mereka berdua sendirian di antara tirai hujan yang jatuh rapat. Air menghantam kaca dalam irama berulang—lembut, hampir menenangkan—namun justru menciptakan jarak, seolah waktu sengaja dilonggarkan bagi dua orang yang tak terbiasa membuka diri.
Vini menatap hujan di depannya.
"Sepertinya ini bukan sekadar rintik biasa, Ron. Hujannya akan lama."
Ron menyilangkan tangan di dada—postur yang tampak santai, namun terlalu kaku untuk sepenuhnya jujur. Ia mencoba menenggelamkan detak jantungnya sendiri.
“Aku suka hujan. Kota jadi… sedikit lebih jujur. Semua kemewahan itu basah, dingin, dan nggak bisa lagi berbohong.”
Vini mengangkat alis, bibirnya bergerak tipis, nyaris geli.