LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #10

Kafe dan Cahaya Neon

Hujan yang tadinya hanya tirai tebal kini tumpah dengan kemarahan yang tiba-tiba. Jalanan berubah menjadi sungai cahaya neon. Ron dan Vini bergegas melintasi jalan raya menuju sebuah kafe kecil di seberang, satu-satunya bangunan yang tampak memancarkan cahaya hangat di malam yang dingin itu.

Tempat itu sederhana, jendelanya besar, dan memantulkan pantulan kabur dari jalan yang basah. Lampu gantung kuning memancarkan kehangatan, sementara aroma biji kopi yang baru dipanggang memenuhi udara seperti janji yang menenangkan.

Ron membuka pintu kayu kafe. Lonceng kecil di atasnya berdentang pelan. "Masuk dulu," ujar Ron, suaranya sedikit lebih nyaring dari biasanya karena kelegaan. "Biar kita menunggu hujan di dalam."

Vini melangkah masuk, membiarkan kehangatan kafe memeluk bahunya yang dingin. Ia memandangi interior, matanya yang waspada perlahan melunak. "Sederhana, tapi terasa hangat. Aku tak ingat pernah menemukan tempat seperti ini di kota yang penuh kilauan palsu."

Kafe itu hampir kosong—hanya dua meja terisi, sisanya dibiarkan sepi. Cahaya kuning lembut memantul halus di tulang pipi Vini. Ron memperhatikannya sekilas—sangat sekilas, seperti jurnalis yang menangkap detail kritis—karena ia takut jika tatapannya terlalu lama akan terlihat.

Barista kafe itu sudah pergi ke belakang, meninggalkan meja bar yang kosong. Ron tanpa sadar berjalan memutari meja, berdiri di balik bar.

Vini mengangkat alis. "Kamu... kerja di sini?"

Ron tertawa kecil. Tawa yang terdengar jujur, tidak disaring. "Tidak. Tapi barnya kosong. Aku biasa membuat kopi sendiri, di mana pun aku bisa."

"Kamu bisa membuat kopi?" tanya Vini. Ada nada penasaran yang tulus dalam suaranya.

Ron mengambil apron kanvas yang tergantung, lalu mengikatkannya di pinggang rampingnya. “Bisa. Aku dulu belajar membuat kopi dari mentorku—keahlian yang membawaku kerja sambilan semasa kuliah. Dan entah kenapa…”

Ia berhenti sejenak, menurunkan pandangan ke mesin kopi di depannya.

“…membuat kopi selalu terasa menenangkan.”

Vini turun dari heels-nya, lalu duduk di kursi bar, dagunya bertumpu di tangannya. Ia menatap gerakan Ron: cara Ron merapikan grinder, menimbang biji dengan teliti, memutar handle portafilter dengan kekuatan yang terukur, membersihkan sisa espresso. Semua dilakukan perlahan, seperti sebuah ritual kuno yang punya makna personal.

Lihat selengkapnya