LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #11

Vonis Dalam Perkataan

Ron merasakan sesuatu menghunjam dadanya—sesuatu yang tak berani ia beri nama. Tatapannya lurus ke arah Vini, sadar bahwa perempuan itu berbicara seperti bayangan yang tak pernah diciptakan untuk bertahan.

"Vin," ujar Ron pelan. "Kamu selalu bicara seperti seseorang yang sudah siap pergi, bahkan sebelum diminta."

Vini tersenyum hambar. Senyum yang berhenti di bibir, tak pernah sampai ke matanya. “Karena aku memang nggak pernah tinggal lama—apalagi menetap.”

Ron tidak mengalihkan pandangannya—tatapannya menolak mundur. “Kalau itu bagian dari dirimu,” katanya serius, “aku ingin dengar.”

Vini memegang cangkir dengan dua tangan, seolah benda hangat itu adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan. "Ron… ada hal-hal yang kalau aku ceritakan, kamu nggak akan lagi melihat aku dengan cara yang sama."

“Kalau itu kamu,” balas Ron, suaranya rendah dan sedikit bergetar, “aku tetap mau dengar.”

Vini terdiam. Lama. Terlalu lama.

Di luar, hujan berhenti, menyisakan embun yang melekat di jendela. Kehangatan kafe terasa palsu—seperti jeda yang dipinjam sebelum sesuatu runtuh.

Lihat selengkapnya