Ron baru saja meletakkan cangkir kosong ke atas meja ketika seseorang berdeham pelan di belakang bar.
Seorang pria paruh baya berdiri di sana—bartender yang sebenarnya. Rambutnya sedikit memutih, celemek hitam tergantung longgar di pinggang. Ia menatap dua cangkir di meja mereka, lalu menatap Ron dengan alis terangkat, bukan marah, lebih ke geli.
Ron langsung berdiri setengah gugup. “Maaf,” katanya cepat. “Tadi… saya nyeduh sendiri kopinya. Bar-nya kosong, dan—”
“Dan kelihatannya kalian butuh waktu,” potong bartender itu tenang.
Ron terdiam. Vini menunduk sedikit, jemarinya memeluk cangkir yang sudah dingin.
Bartender itu mengambil kedua cangkir, menaruhnya di wastafel, lalu menuangkan air panas untuk membilasnya. Gerakannya santai, seolah adegan seperti ini bukan hal asing baginya.
“Kafe ini sering jadi tempat orang berhenti sebentar,” katanya tanpa menoleh. “Bukan buat minum kopi. Tapi buat menunda pulang.”
Ron melirik Vini sekilas. “Kami nggak bermaksud—”
Bartender itu menoleh, tersenyum tipis. “Tenang. Selama nggak ada yang memecahkan gelas, aku nggak keberatan.”
Ia meletakkan dua cangkir bersih kembali ke rak, lalu menatap mereka bergantian—tatapan orang yang sudah terlalu lama melihat manusia datang dan pergi dengan ceritanya masing-masing.