Beberapa hari membeku sejak malam di kafe itu—malam di mana kata-kata tak terucapkan mengubah peta perasaan mereka, meninggalkan jejak yang tak berani Ron maupun Vini akui. Kota Billboard masih sama: lampu neon yang menyala sepanjang malam, gedung tinggi yang seakan saling menantang, dan hujan yang turun sesukanya, tak peduli siapa yang sedang mencoba menata hidup.
Pagi itu, Studio 9 terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu putih memantul tajam di dinding kaca. Suara tumit para trainee yang bergerak serempak menciptakan irama keras, kontras dengan aroma parfum yang bercampur keringat dan ambisi. Studio itu adalah ruang yang menuntut kesempurnaan.
Vini masuk. Langkahnya terukur dan tenang, namun aura waspada di sekelilingnya kini terasa lebih tipis, tergantikan oleh ketenangan yang asing. Ia telah belajar menyembunyikan masa lalu, tapi ia gagal menyembunyikan kebahagiaan kecil yang baru tumbuh. Hanya Clarissa yang menangkap perubahan itu—seperti membaca subteks yang gagal Vini hapus.
Clarissa berdiri di tengah ruangan memegang clipboard. Ia menatap Vini sambil menyipit, senyum sinisnya mengembang.
"Kok aura kamu hari ini beda, Vin?" tanya Clarissa. Ia menyenggol lengan Vini. "Ada yang berhasil bikin hidup kamu jadi nggak terlalu pahit, ya?"
Vini mengalihkan pandangan, sedikit defensif. "Nggak ada. Aku cuma tidur lebih cukup."
Clarissa tertawa pendek. "Ya ampun. Alasan paling basi yang pernah kudengar dari model yang tak pernah tidur."
Vini tidak menjawab. Ia sibuk merapikan rambutnya, padahal tatanan rambut itu sudah sempurna sejak ia keluar dari apartemen. Clarissa makin yakin ada sesuatu yang berubah, tapi memutuskan menahan keisengannya untuk nanti saja. Ia tahu, buah yang matang akan jatuh sendiri.
Pintu studio terbuka, membiarkan seberkas cahaya pagi masuk. Ron muncul. ID jurnalis menggantung di leher, kamera siap di tangan. Langkahnya terukur dan tenang, namun matanya langsung mencari—dan menemukan—satu wajah.
Ron menatap Vini, sebuah senyum kecil terukir tanpa ia sadari. "Pagi."
Vini membalasnya. Ia menahan senyumnya sendiri, mencoba memasang wajah netral yang biasa ia kenakan. "Pagi."