LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #14

Keluarga yang Tak Terencana

Sesi Pelatihan Dimulai.

Clarissa mulai memberi instruksi dengan clipboard di tangan. Vini mengambil alih, mengajar teknik berjalan, postur bahu, dan ekspresi wajah. Ia mengajar dengan fokus dan presisi seorang ahli bedah.

Okky, tentu saja, sering salah langkah, tersandung, dan membuat gerakan yang tidak perlu. Setiap kali Okky melakukan itu, seluruh ruangan tertawa—tawa yang lebih menyerupai pelepasan ketegangan yang dibutuhkan, bukan sekadar hiburan.

Ron menurunkan kamera dari matanya. "Okky, kamu nggak apa-apa?"

Okky bangkit sambil mengacungkan jempol yang gemetar. "Aku kuat, Kak! Kak Vini bilang aku punya potensi!!"

Vini menepuk keningnya, nadanya tegas. "Aku bilang... potensi... itu cuma omong kosong, Okky. Kamu harus belajar fokus dan disiplin."

Ruang studio perlahan berubah menjadi tempat yang hangat—bukan karena lampu putihnya, melainkan karena tiga orang di sana secara tak sadar saling menyembuhkan sepenggal demi sepenggal luka yang bahkan belum berani mereka bicarakan.

Di antara suara heels yang mengetuk lantai dan shutter kamera yang artifisial, Ron mencuri pandang ke arah Vini. Vini yang juga sesekali melirik balik. Tak satu pun membahas malam di kafe itu, namun keduanya jelas tak melupakan.

Dan Okky—bola energi yang polos—menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya. Cahaya kecil yang diizinkan masuk ke dua hati yang sudah terlalu lama terbiasa tinggal dalam bayang-bayang.

Sesi pelatihan hari itu selesai satu jam lebih cepat dari jadwal. Para trainee sudah pulang satu per satu, meninggalkan jejak sepatu di lantai dan aroma parfum yang mulai memudar. Clarissa pamit buru-buru, katanya ada meeting dengan salah satu brand yang tak bisa ditunda.

Studio akhirnya sunyi. Ruang besar yang tadi dipenuhi hiruk pikuk suara langkah kini hanya menyisakan gema halus. Lampu-lampu mulai diredupkan, seolah enggan menampakkan sisi kejam kesempurnaan.

Di depan pintu studio, Okky berdiri sambil memeluk tas besarnya, menatap hujan yang kembali turun. Setetes... dua tetes... lalu berubah menjadi tirai air yang jatuh rapi di sepanjang kaca lobi.

Wajah Okky meringis. "Aduuuh… harusnya aku cepatan ganti sepatu tadi. Jemputan aku masih 30 menit lagi…"

Vini mendekat, meliriknya. "Kamu nggak bawa jaket?"

Okky menggeleng cepat. "Nggak! Kupikir hari ini cerah! Makanya aku pakai rok pendek… sekarang dingin banget…"

Ron ikut berdiri di samping Vini, bahu mereka berjarak namun terasa terhubung oleh kekhawatiran yang sama. "Kamu nggak bisa pulang naik ojek aja? Biar cepat?"

"Bisa sih… tapi aku takut dingin," jawab Okky, memeluk tasnya lebih erat—seolah memeluk dunia kecilnya yang rapuh. "Lagian… aku takut jatuh. Jalanan licin…"

Okky berdiri di sana, mungil di antara tirai hujan yang besar. Vini menatapnya sebentar—lama, lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu dalam diri Okky yang selalu membuat naluri protektif Vini menyala, sebuah cerminan ketidakberdayaan yang tak pernah ia izinkan muncul pada dirinya sendiri.

Lihat selengkapnya