Ron mulai mengemudikan hatchback abu-abu tuanya, keluar dari basement yang lembap. Mobil melaju pelan di jalanan basah.
"Okky, kos kamu arah utara, kan?" tanya Ron, matanya menatap spion tengah.
"Iya! Arah situ yang ada minimarket besar. Kakak nanti belok kiri terus lurus aja!" jawab Okky antusias dari belakang.
Vini menoleh sedikit ke belakang, ia masih khawatir pada Okky. "Okky, kamu tadi beneran nggak bawa jaket?"
"Nggak! Tapi sekarang nggak dingin kok, soalnya aku duduk di mobil yang… hangat…"
Ron sedikit tersenyum—senyum yang terbagi antara rasa geli pada Okky dan kehangatan dari Vini di sebelahnya. "Hangatnya karena AC dimatiin. Aku lupa hidupin."
Okky langsung cemberut di belakang. "What?! Kak!! Aku kira hati Kak Ron yang hangat!!"
Vini tertawa kecil. Tawa itu keluar tanpa ia sadari—suara yang ringan, yang sudah lama tak ia dengar dari dirinya sendiri. "Tuhan… aku nyerah."
Suara tawa Vini itu membuat ruang mobil berubah. Tidak besar, tidak dramatis—tapi cukup untuk membuat atmosfernya mengembang menjadi lebih lembut. Ron sempat menoleh ke Vini, tatapannya berlangsung kurang dari satu detik, namun membawa bobot pengakuan.
Vini menangkap tatapan itu, lalu buru-buru menatap keluar jendela.
Tak ada yang berkata apa-apa soal malam di kafe itu. Namun, suasana tegang itu masih ada di sana—di antara mereka, menggantung seperti embun yang tak mau jatuh, tetapi kini diselimuti lapisan gula halus yang diciptakan oleh kehadiran Okky.
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangan bertumpu di sandaran kursi Vini. "Kak Viniii… kakak hari ini cantik banget. Serius. Tadi waktu Kak Vini kasih contoh jalan, aku kayak… wah! Itu role model aku banget!"
Vini meliriknya. "Kamu ngomong gitu karena kamu mau aku traktir minum nanti, ya?"
Mata Okky melebar. "Hah?! Emang boleh?!"
Ron hampir tersedak ludahnya sendiri, geli melihat Okky yang terlalu cepat menangkap peluang. "Bukan gitu maksudnya—"
Vini tertawa kecil. Tawa itu lebih nyata dari yang ia tunjukkan di kafe. "Okky, kamu harus belajar paham bercandaan."
Okky memeluk tasnya. "Nggak bisa… soalnya aku gampang baper."