Ron perlahan menjalankan mobil menjauh dari bangunan kos Okky. Jalanan malam terasa tak ramai; hanya lampu jalan dan hembusan angin dingin yang menemani mereka.
Vini menatap ke luar jendela, tetapi bayangan dirinya yang tercermin di kaca lebih menarik perhatiannya. Ia tampak tenang dari luar, tapi jari-jarinya menggenggam jaket di pangkuannya dengan erat—sebuah pertarungan yang tak Ron lihat.
Ron melirik sedikit, kembali ke mode pengamat. "Kamu capek?"
Vini mengangguk kecil. "Sedikit. Tapi… aku senang Okky pulang dengan aman."
Ron mengemudi dalam diam selama beberapa saat. "Kamu sayang banget sama dia ya?"
Vini tersenyum samar. Senyum yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. "Dia… ngingetin aku sama seseorang."
"Seseorang yang penting?" tanya Ron.
Vini menatap jalanan yang basah, bayangan lampu yang memanjang. "Seseorang yang… aku harap waktu itu bisa aku lindungi."
Ron terdiam. Ia tak ingin memaksa. Vini terlalu rapuh untuk disentuh dengan pertanyaan tajam. Terlalu banyak bayangan masa lalu yang belum berani ia buka. Ron hanya mengangguk pelan, menghargai kalimat itu seperti sebuah rahasia kecil yang diberikan dengan kepercayaan yang tak ternilai.
Ia tahu persis rasa itu. Ron tak hanya mendengarnya; ia merasakannya. Dan ia sadar, mereka berdua berbagi jenis luka yang sama: kegagalan untuk menyelamatkan.
Mobil Ron melaju melewati jembatan kecil. Hujan mereda menjadi kabut tipis yang menempel di kaca. Radio menyala dengan suara rendah—jazz instrumental yang pelan, lembut, dan menenangkan, seolah menjadi soundtrack bagi ketegangan mereka.
Vini tiba-tiba berkata, suaranya lirih. "Ron..."
"Hm?" Ron menjawab, fokusnya tak terbagi antara jalanan dan Vini.
"Aku... senang kamu ada hari ini."
Ron mengerjap kecil. "Aku juga. Aku tak tahu kenapa, tapi rasanya hari ini... pas."
"Pas?" tanya Vini.
"Ya. Kayak... ada ritme yang cocok. Sama kamu. Sama Okky juga."