LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #17

Retakan Pertama di Dalam Hati

Udara senja menempel dingin di kaca-kaca gedung ketika Ron perlahan mengemudikan mobilnya menjauh dari gedung apartemen Vini. Hujan sudah berhenti sepenuhnya, namun sisa-sisanya masih menempel pada jalanan seperti kenangan yang tidak mau hilang. Lampu-lampu malam menyala satu per satu, membentuk jalur cahaya panjang yang membentang di trotoar.

Ron menyandarkan kepala pada sandaran kursi. Ia membiarkan keheningan mobil menenangkan dirinya, menunggu napasnya kembali stabil. Entah mengapa, malam ini terasa terlalu nyata. Terlalu hangat. Terlalu dekat dengan sesuatu yang ia tak berani sebut “harapan”.

Ron menatap setir, berbicara pada dirinya sendiri dalam hati.

Mengapa... aku tak ingin kembali ke tempat yang sepi?

Ia lalu menepikan mobilnya, tidak langsung mengemudi. Berhenti tepat di dekat gerbang keluar. Ia melihat cermin spion. Di sana, ia membayangkan Vini berjalan menuju lift—sendirian, kecil, terlindungi, namun terlihat seperti seseorang yang bisa pecah kapan saja.

Ron menghela napas panjang, nama Vini menjadi sebuah bisikan penuh pengakuan. "Vini..."

Dan itu adalah malam pertama Ron mengakui kepada dirinya sendiri bahwa ia peduli jauh lebih dalam daripada yang seharusnya. Ia tak lagi hanya seorang jurnalis. Ia telah menjadi penjaga yang tak diminta, dan ia tak punya rencana untuk berhenti.

"Gema Janji di Ruang Sepi"

Pintu apartemen tertutup pelan di belakang Vini.

Ia bersandar pada kayu, menatap lantai kosong seakan ruangan itu baru saja menjadi saksi bisu sesuatu yang tak bisa ia tarik kembali—atau mungkin sesuatu yang sejak awal ia takutkan akan dimulai. Kehangatan mobil Ron dan kekacauan Okky tak ikut terbawa masuk. Yang tersisa hanya sunyi yang terlalu jujur.

Lampu apartemen menyala temaram, menciptakan bayangan lembut di dinding—bayangan yang terasa seperti kehadiran Ron yang enggan pergi. Vini melangkah pelan ke jendela, menyibakkan tirai sedikit. Dari lantai 23, kota terbentang seperti lautan cahaya yang tak pernah tidur.

Vini memeluk lengannya sendiri, menatap keluar—bukan pada terang kota itu, melainkan pada kegelapan yang terasa jauh lebih dekat di dalam dadanya.

Kenapa aku… nggak bisa berhenti mikirin dia…?

Perasaan ini asing—hangat, tapi menyakitkan. Seperti merindukan sesuatu yang tak boleh ia miliki, dan pada saat yang sama merindukan dirinya yang dulu: yang lebih berani, dan terlatih memanfaatkan situasi.

Ia duduk di sofa, menarik lutut ke dada. Bayangan Ron kembali hadir: cara tangannya menggenggam setir, cara suaranya terdengar saat berkata, “Aku bakal ada sebisaku.” Begitu jelas, seolah laki-laki itu masih berdiri di ruangannya sekarang.

Vini berbisik pada dirinya sendiri, nyaris seperti doa yang salah alamat. "Ron… jangan bikin aku percaya…"

Aku nggak akan selamat kalau janji itu palsu.

Ia memejamkan mata. Sekelebat ingatan lain menyusup—dari masa yang lebih gelap. Senyum yang meyakinkan, tapi sarat manipulasi. Tangan yang hangat, tapi selalu menyimpan ancaman. Sosok yang namanya tak sudi ia ucapkan, bahkan di dalam hati.

Hantu masa lalu.

Laki-laki yang membuat kata percaya berubah menjadi akar luka.

Lihat selengkapnya