Minggu berikutnya datang dengan ritme yang tak berbeda dari biasanya—kota Billboard masih penuh suara klakson, lampu neon, hujan sesekali, dan hiruk pikuk yang seakan tak membiarkan siapa pun bernapas terlalu panjang.
Namun bagi Ron dan Vini, segalanya mulai terasa berbahaya.
Ron menemukan dirinya datang ke studio lebih sering dari yang diminta redaksi. Kadang alasannya liputan lanjutan. Kadang foto tambahan. Kadang... tanpa alasan yang jelas—ia hanya ingin memastikan Vini baik-baik saja.
Ia bahkan mulai menghafal jam-jam Vini bekerja, jam istirahatnya, dan simpul rambut yang Vini buat ketika ia lelah—sebuah surveillance yang dulu ia gunakan untuk membongkar kasus kriminal.
Ron menatap layar ponsel. "Jam 10 pagi. Sesi basic. Aku harusnya meliput balai kota... tapi aku bisa datang kalau aku berangkat sekarang." Ia tak menyadari bahwa pikirannya mulai berputar mengikuti jadwal orang lain—sesuatu yang pernah menjadi kebiasaannya dulu. Ia melakukannya lagi sekarang, dengan wajah yang berbeda, seperti de ja vu yang tak terhindarkan.
"Di Sisi Lain, Vini..."
Vini menjalani harinya seperti biasa, tetapi kebiasaan baru muncul tanpa izin: menatap ponselnya beberapa kali, mencoba meyakinkan diri bahwa ia tak sedang menunggu Ron.
Pada sesi pagi itu, trainee baru sedang latihan catwalk. Clarissa berkoar lantang seperti biasa, Okky sibuk memperbaiki rambut yang terus jatuh ke mata.
Vini berdiri di sisi studio, menyilangkan tangan, melihat trainee lewat satu per satu. Namun pikirannya tak sepenuhnya di ruangan.
Vini menggigit bibirnya pelan. "Kenapa dia belum datang…? Padahal biasanya—*"
Ia berhenti. Ia sadar kalimat itu berbahaya. Itu adalah pengakuan yang tak boleh ia izinkan tumbuh.
Clarissa tiba-tiba muncul di sampingnya, suaranya tajam. "Nunggu Ron?"
Vini tersentak, reaksinya terlalu cepat. "Bukan!"
Clarissa mengangkat alis. "Vin... kamu tuh kalau bohong, mukanya nggak bisa nyembunyiin apa-apa."
Vini berusaha menahan wajah. Tidak berhasil. Ia tahu, retakan-retakan kecil mulai menjalar, perlahan di benteng pertahanannya.
"Kehadiran yang Tak Terhindarkan"
Pintu studio terbuka pelan, mengizinkan embusan udara dingin masuk. Ron masuk dengan kamera menggantung, mengenakan jaket tipis warna gelap yang masih lembap di bahu. Matanya mencari, langkahnya tak bisa lagi ia kendalikan.
Begitu matanya mengunci Vini, langkah Ron melambat, seolah waktu tiba-tiba berjalan melambat hanya untuk mereka berdua. Dan begitu Vini melihat Ron, napasnya otomatis mengendur—sebuah pengakuan fisik atas rasa lega yang tak terhindarkan.
Clarissa segera menyadari dinamika yang baru terbentuk. Ia terkekeh pelan, suaranya tajam. "Aku kayak lagi nonton drama Korea live, tau nggak?"
Vini memelototinya. "Clar."
Ron mendekat, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat udara di sekitarnya berubah—menjadi lebih tebal, lebih intim.