LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #19

Jembatan Takdir

Mendung yang menghitam tak lagi mampu membendung airnya untuk terjun ke kota di bawahnya. Suaranya nyaris tak terdengar, hanya meninggalkan garis-garis redup di kaca mobil Ron ketika ia menyetir keluar dari jalan kecil tempat ia dan Vini berpisah sebelumnya.

Mereka tidak merencanakan pulang bersama. Mereka bahkan tidak membahasnya. Namun keduanya berjalan ke arah mobil Ron hampir bersamaan, seolah tubuh mereka sepakat sebelum pikiran mereka sempat menolak.

Ron membuka pintu untuknya—gerakan kecil yang tidak muluk, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dada Vini bergerak.

Vini, suaranya pelan, nyaris berbisik. "Aku… boleh nebeng? Hujan belum berhenti."

"Tentu," balas Ron.

Tak ada yang sebenarnya perlu dijelaskan. Kadang, hubungan terjalin dengan sendirinya di momen yang paling jujur dan tanpa alasan—di titik di mana kehendak pribadi dikalahkan oleh kebutuhan yang lebih besar.

Mobil berjalan pelan. Suasana sunyi, tapi bukan sunyi yang menekan—lebih seperti ruang aman yang mereka berdua belum pernah miliki. Hanya suara AC dan hujan yang mengusap kaca tipis-tipis seperti sebuah rahasia.

Vini duduk dengan kepala sedikit menoleh ke jendela, tapi Ron tahu dari cara bahunya bergerak bahwa pikirannya tak berada pada kota di luar sana. Pikirannya—sama seperti pikirannya sendiri—sedang melayang ke satu titik yang sama.

"Besok… kamu sibuk?" tanya Ron.

Vini berhenti berpikir sejenak. "Lumayan. Tapi… kalau kamu datang, mungkin sibuknya jadi beda."

Ron tersenyum kecil. "Aku pasti datang."

Jawaban Ron itu sederhana. Terlalu sederhana. Dan justru karena itu, lebih berbahaya.

Lihat selengkapnya