Malam turun perlahan seperti kabut yang enggan pergi. Langit kota Billboard berwarna kelabu tua, dengan kilatan lampu gedung memantul dari tetesan hujan yang masih melekat di kaca.
Di lantai 23 sebuah apartemen kecil, Vini berdiri di balkon. Ia memeluk kedua lengannya, menatap kota yang tampak terlalu besar untuk seorang manusia yang sedang merasa kosong.
Sejak Ron menurunkannya beberapa jam lalu, Vini tak bisa duduk diam. Ia mencoba membaca naskah pemotretan—tak fokus. Ia mencoba mandi—tak tenang. Ia mencoba tidur... tapi matanya lekas terbuka oleh kepalanya sendiri yang berisik.
Vini menatap layar ponsel yang kosong. Tak ada pesan dari siapa pun. Tapi ia menunggu. Menunggu sesuatu yang ia sendiri terlalu takut untuk sebut: konfirmasi kehadiran.
Vini mengembuskan napas, berbisik pada dirinya sendiri. Kenapa… rasanya beda kalau dia nggak ada?
Di luar, angin malam membawa aroma aspal basah. Balkon sempit itu terasa seperti satu-satunya tempat Vini bisa bernapas. Namun justru di sanalah ia merasa paling rapuh—karena tempat tinggi dan sepi selalu membuat kenangan buruk berbisik.
Ia menutup mata. Bayangan masa lalu muncul samar. Tangan kasar. Suara dingin. Kalimat ancaman yang disamarkan sebagai janji.
Nama seseorang yang tak ingin ia sebut dan seharusnya dikubur dalam-dalam, tapi selalu hidup di bayangannya. Dan nama itu hampir muncul, lalu...
Vini membuka mata cepat, suara tercekat. "Bukan sekarang... tolong..."
Ia telah melewati garis. Setelah bertahun-tahun hidup dalam kewaspadaan diri, Vini tak lagi hanya merasa aman karena Ron ada. Ia kini merasa tak aman karena Ron tak ada. Ketergantungan halus itu telah terbentuk.
"Desakan Kebutuhan"
Vini berbalik masuk ke dalam apartemen, mengambil ponselnya. Jemarinya gemetar sedikit. Ada semacam impuls dari dalam dirinya—bukan logika, bukan rencana, tapi desperate ketakutan yang menuntut Ron untuk memenuhi janji kehadirannya.
Layar ponsel menampilkan satu kontak: ‘Ron’
Vini menatapnya lama. Sangat lama. Seolah menyentuh bom waktu.
Vini berbisik pelan, pada dirinya sendiri. Aku… boleh nggak sih minta dia ada?
Hampir tanpa sadar, ia mengetik pesan: Kamu lagi apa?
Vini menatap teks itu lama, namun tidak ia kirim. Dihapus, lalu tulis lagi: Udah pulang?
Dihapus lagi, lalu ia tulis: Kalau belum tidur… aku mau ngobrol sebentar.
Sambil menggigit bibir, Vini akhirnya menekan send pada draf terakhir.
Beberapa detik terasa seperti berjam-jam yang membeku. Ponselnya berbunyi, layar menyala. Vini melihat nama Ron di preview notifikasi.