Pagi di kota Billboard datang dengan cahaya pucat yang memantul di kaca jendela apartemen Vini. Hujan sudah berhenti sejak dini hari, menyisakan aroma aspal basah yang memenuhi udara.
Ron baru pulang dua jam lalu. Ia duduk di sofa apartemennya sendiri, masih mengenakan jaket yang belum ia lepas sejak semalam. Kopi panas di depannya sudah dingin. Ia menatapnya tanpa benar-benar melihat.
Ia berbicara pada dirinya sendiri dalam hati. Baru kali ini aku… nggak mau pulang dari tempat seseorang.
Ron memijat pelipis. Ini bukan perasaan yang ia rencanakan. Bukan kebiasaan baru yang ia minta. Tapi sejak Vini mengirim pesan, Bolehkah kamu datang?, sesuatu dalam dirinya bergeser.
Ia merasa bertanggung jawab. Terlalu bertanggung jawab.
Ron mengusap wajah, lalu bangkit. Ada liputan yang harus ia kerjakan, tapi pikirannya tetap pada Vini.
Ia menatap layar ponsel. Dia udah bangun belum…?
Ron mengetik pesan pendek, lalu menghapusnya. Mengetik ulang. Menghapus lagi. Ini bukan hanya sebuah pesan, tapi sebuah pertanyaan yang ia ajukan pada dirinya sendiri: seberapa dalam ia diizinkan masuk?
Ron akhirnya mengirim sebuah pesan. Pagi. Kamu baik?
Setelah itu, ia mengembuskan napas panjang—seolah mengirim pesan itu membuat jantungnya bekerja lebih berat daripada lari dua kilometer.
Suara ponsel membuat Vini membuka mata. Ia masih berada di sofa apartemennya, dengan selimut yang terseret setengah badan. Matanya berat, tapi hatinya terasa sedikit lebih ringan—sebuah anomali yang ia dapatkan dari kehadiran Ron semalam.
Ia melihat pesan dari Ron. Vini tersenyum kecil tanpa sadar. Baik. Makasih udah datang semalam.
Ia menulis balasan itu dengan cepat. Kamu udah di kantor?
Ron membalas dalam hitungan detik. Vini membaca notifikasinya.
Belum. Lagi siap-siap. Kamu sarapan?
Vini menatap kulkas yang hampir kosong. Belum.
Layar ponselnya menyala lagi.
Mau kubawain?
Vini terdiam. Ia tahu ia seharusnya berkata tidak. Ia seharusnya menjaga jarak. Ia seharusnya menolak janji kehadiran Ron.
Tapi ia mengetik, melanggar semua aturan yang ia buat untuk bertahan hidup:
Boleh.
Dan itulah keputusan kecil pertama—sebuah penerimaan—yang membuat semuanya meluncur lebih cepat dari yang seharusnya.
"Sepasang Roti dan Cup Kopi"
Ron tiba di kantor tujuh belas menit lebih telat dari biasanya—bukan karena macet, tetapi karena ia mampir membeli roti dan kopi untuk Vini.
Arman, rekannya, langsung melihat perubahan itu.
Arman menyipit curiga. "Bro… sejak kapan dirimu bawa dua kopi sama dua roti ke kantor? Mau buka warung?"
Ron berdeham, mencoba bersikap normal. "Ini… buat teman."
Arman mengangkat alis tinggi. "Teman yang bikin kamu absen dari briefing pagi, ya?"