Di tengah hari, studio pelatihan sudah riuh oleh aktivitas. Trainee berlatih pose dengan lampu sorot yang panas, Clarissa sibuk memarahi dua anak baru yang jalannya bengkok, dan musik instrumental bergenre house berdentum kencang dari speaker.
Tapi ada satu hal mencolok yang menyimpang dari biasanya: Vini terlihat lebih kalem, lebih melunak, hampir... memancarkan cahaya.
Okky memperhatikan itu dari jauh. Ia menghentikan gerakan stretching-nya, memandang Vini lekat-lekat dengan mata besarnya.
"Kak Vini… lagi jatuh cinta?" bisiknya pelan pada dirinya sendiri.
Okky mendekat, membawa botol air besar dengan langkah kecil yang imut namun ceroboh, hampir menumpahkan isinya.
"Kak Viniii~!"
Vini menoleh. "Hm?"
"Kakak hari ini... beda, deh."
Vini mengerutkan dahi, sedikit terhibur. "Beda gimana?"
"Kayak… lebih lembut. Ibarat roti sobek premium, dalamnya lembut, isinya banyak, dan mahal!"
Vini tertawa kecil—tawa yang jarang ia lepaskan. "Roti sobek premium?"
Okky mengangguk semangat. "Iya! Kakak biasanya lembut, tapi hari ini lembutnya berlimpah. Ada hubungannya sama Kak Ron, yaaaa?"
Vini tersedak napasnya sendiri. "Okky."
Okky memiringkan kepala, polos, jujur, dan tanpa filter. "Kalian tuh lucu kalau bareng. Kayak… keluarga kecil. Kak Ron yang jagain. Kak Vini yang ngingetin. Dan aku yang selalu di-traktir."
Vini memijat pelipisnya sambil tersenyum samar. "Jangan mengarang cerita, Okky..."
Okky duduk di sampingnya, menggoyang-goyangkan kaki. "Tapi Kak… aku tuh ngerasain energinya kok. Kakak itu kayak… nyaman kalau ada Kak Ron"
Vini terdiam.
Bukan karena marah. Bukan juga karena ingin menyangkal. Justru karena kepolosan Okky berhasil merobek tirai pertahanannya. Ia menyentuh kebenaran mutlak yang Vini sendiri coba hindari selama ini: ketergantungan yang sudah terlanjur tumbuh pada keberadaan Ron.
Vini menatap lantai yang dingin, ekspresinya kembali beku.
"Nyaman itu… rumit, Ky," Vini berbisik lirih.