Hari menjelang malam begitu cepat, seolah waktu sengaja dipersingkat. Studio akhirnya tutup, lampu-lampu utama dipadamkan, trainee sudah pulang, dan Clarissa pamit lebih dulu dengan janji akan “menggoda Vini lagi besok”
Kini hanya tersisa tiga orang di dalam keheningan:
Ron yang sedang membereskan dan mengunci kameranya, gerakannya hati-hati dan sistematis. Okky yang mengganti sepatu pelan-pelan, ekspresinya menunjukkan rasa lelah namun puas. Dan Vini yang berdiri di dekat pintu, tas tangan dipegangnya erat, seolah ia belum berniat menggunakannya untuk pergi.
Suasana lengang. Lemari studio memantulkan cahaya kuning lembut. Hujan rintik terdengar dari luar gedung, seperti detak jam yang sabar menunggu sesuatu terjadi.
Vini melihat Ron. Hanya melihat. Tapi tatapan itu memiliki berat yang tak terucap, memanjang sedikit lebih lama dari biasanya—seolah ia sedang mengukur seberapa besar konsekuensi yang terjadi jika ia terus membiarkan ketergantungan ini menguasai dirinya.
Okky, tentu saja, memperhatikan.
"Kak Ron, nanti pulang bareng Kak Vini nggak?" Okky bertanya lugas.
"Ya kalau dia mau," jawab Ron.
"Mau." Vini menyahut terlalu cepat, tanpa basa-basi. Seperti kilat yang menyambar keheningan.
Jawaban itu begitu terburu-buru. Terlalu siap. Terlalu menginginkan. Dan yang paling berbahaya: terlalu mengeksploitasi ketergantungannya—sebuah kelemahan yang Vini tak bisa lagi kendalikan.
Okky menyipitkan mata seperti detektif yang baru saja menemukan petunjuk kunci.
"Kak Vini, kamu suka banget ya kalau bareng Kak Ron?"
"Okky," Vini memperingatkan, nadanya datar namun ada peringatan di sana.
"Aku cuma nanya..." Okky membela diri, senyumnya polos.
Ron tersenyum kecil, namun hatinya berdebar tak menentu, karena ia juga tidak mengerti apa perasaan yang mengikatnya ini. Yang ia tahu hanyalah: ketika Vini tampak ingin ditemani, Ron tidak punya kendali untuk menolaknya.
"Sunyi yang Terlalu Intim"
Mobil Ron melaju perlahan di jalanan kota yang kini mulai dibanjiri lampu neon dan penerangan jalan. Okky duduk di kursi belakang, sibuk dengan ponselnya, menyenandungkan lagu random dengan volume yang cukup untuk memecah keheningan.
Vini duduk di kursi depan. Ia tidak banyak bicara. Namun, cara ia menggenggam tas kecilnya di pangkuan—begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih— membuat Ron curiga ia sedang bergelut dengan kecemasan.
"Kamu capek?" tanya Ron pelan, suaranya tenang.
"Sedikit," jawab Vini.
"Pulang mau makan?"
Vini menggeleng, tatapannya lurus ke depan. "Enggak... aku cuma mau cepat sampai."
Dialog mereka terdengar sederhana, tetapi ada untaian makna lain yang tersembunyi. Seperti ada beban tak kasat mata yang Vini tahan mati-matian, tapi ia enggan membicarakannya. Ron memperhatikan dari sudut matanya, seksama.
Ketika mobil berhenti di lampu merah, Vini memegang lengan bajunya sendiri erat-erat, seolah berusaha menahan dirinya agar tidak menghilang. Ron melihat isyarat fisik itu.
"Kamu... takut kalau hujan lagi?" Ron bertanya, berusaha mencari alasan logis.
Vini menggeleng. "Aku cuma nggak suka malam."