Malam itu tak seharusnya terasa menakutkan. Tidak ada hujan yang memukul jendela. Tidak ada petir yang membelah langit. Tidak ada bayangan ekstrem yang menipu mata.
Namun bagi Vini, malam itu terasa... begitu berbahaya. Bahaya yang tidak punya bentuk fisik, hanya hawa panas yang merayap di bawah tengkuk.
Di hari itu, saat Ron sedang lembur mengejar deadline di kantornya, Vini pulang lebih cepat dari studio. Kepalanya pusing, tubuhnya lemas, dan lehernya panas seperti baru saja tersengat demam tinggi. Ia sempat menolak tawaran Clarissa untuk pulang bersama.
"Aku bisa sendiri," ucap Vini saat itu, suaranya parau.
"Kamu yakin? Kamu pucat banget—kayak mau pingsan," Clarissa mencoba menahan.
"Iya. Aku cuma capek," tutup Vini, tidak memberikan ruang negosiasi.
Tapi begitu tiba di apartemennya, pintu tertutup, dan lampu kamar menyala... rasa capek itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kelam. Kesunyian apartemen bukan menenangkan, melainkan menekan.
Vini berdiri di tengah ruang tamu, memegangi sisi kepalanya yang berdenyut. Napasnya pendek. Detak jantungnya cepat, tapi tak stabil. Seperti tubuhnya sedang menyalakan alarm biologis yang ia sendiri tak paham pemicunya.
"Jangan sekarang..." gumam Vini, memohon pada dirinya sendiri sambil tak kuasa menahan pusing.
Ia berjalan terseok ke dapur untuk mengambil air. Namun saat tangannya menyentuh gagang kulkas—
Klik... klik...
Sebuah bunyi pelan terdengar dari lorong luar apartemen.
Hanya suara tetangga yang menutup pintu? Atau langkah orang lewat? Secara logika, itu hal biasa. Tapi bagi Vini—yang sedang demam dan kehilangan filter rasionalnya—suara itu memicu jurang ingatan yang mendalam. Sangat dalam.
Ingatan itu menerobos masuk. Suara pintu yang dikunci dari luar. Suara langkah kaki berat di lantai kayu. Suara seseorang di masa lalu yang membuatnya merasa terjebak tanpa jalan keluar.
Tubuhnya merespons duluan sebelum logikanya datang.
Prang!
Gelas di tangannya terlepas, air tumpah membasahi lantai dapur. Vini mundur, punggungnya menabrak kabinet dapur. Napasnya kini memburu, keringat dingin bercampur dengan panas demam.
"Tidak... bukan dia... bukan sekarang..." bisiknya, matanya terpejam seolah ingin menghapus suara itu. Suara yang datang dari teror imajiner.
Ia memejamkan mata, mencoba mengambil napas. Namun napasnya patah, tak mampu mengisi paru-parunya. Ruangan itu terasa menyempit, dinding-dinding seolah bergerak mendekat untuk menghimpitnya.
Dan di antara semua orang yang mungkin bisa ia hubungi—hanya satu nama yang muncul begitu cepat, begitu otomatis, begitu... refleks.
Ron.
Tangan Vini bergerak sendiri, gemetar hebat. Ia meraih ponsel di saku celananya, membuka chat Ron dengan pandangan kabur, dan mengetik tanpa sempat berpikir panjang. Tanpa takut. Tanpa perlu lagi sembunyi.
Kamu bisa datang?