LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #25

Pertama Kalinya Menginap

Apartemen itu tenggelam dalam remang. Selain lampu kecil di sudut dapur yang memantulkan cahaya kekuningan ke lantai, seluruh ruangan larut dalam bayang-bayang yang lembut. Seolah dunia menyusut, menyisakan hanya dua manusia di dalam ruang sunyi itu.

Ron menuntun Vini ke sofa, duduk di sampingnya, memastikan ia nyaman tanpa membuatnya merasa diawasi.

Vini menggenggam lengan baju Ron—cengkeraman yang tidak kuat, namun enggan melepas. Bukan meminta, bukan menahan… hanya memastikan ada sesuatu yang nyata untuk diraih ketika dunia di sekelilingnya terasa terlalu luas dan terlalu senyap.

Ron menatapnya lembut, suaranya pelan seperti upaya menenangkan badai kecil yang baru saja reda. "Kamu mau air hangat? Atau teh?"

Vini menggeleng perlahan. Matanya tak lari dari wajah Ron, seolah Ron adalah satu-satunya objek nyata di ruangan itu.

"Aku nggak mau apa-apa, Ron… cukup kamu di sini. Itu aja."

Kalimat itu sederhana. Tapi cara Vini mengucapkannya—lirih, rapuh, seperti seseorang yang takut kehilangan pijakan terakhirnya—membuat Ron merasakan sesuatu menghimpit dadanya—perlahan, dalam, gema dari masa lalu, dari seseorang yang tak sempat ia tarik kembali dari gelapnya. Dan justru karena itu, ia tak punya pilihan lain selain tetap berada di sisi Vini.

Ia menggeser duduknya lebih dekat. Menghapus jarak.

Vini memejamkan mata, lalu perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu Ron.

Ron membiarkan. Ia tak berani bergerak, takut gerakan sekecil apa pun akan memecahkan momen rapuh itu. Ia hanya bernapas pelan, tanpa sadar menyesuaikan ritmenya dengan napas Vini—seperti dua denyut yang menemukan frekuensi yang sama.

Detik-detik berlalu dalam keheningan yang terlalu intim untuk dua orang yang “belum resmi apa-apa”. Namun tidak ada kecanggungan. Hanya keheningan yang terasa berat namun menenangkan, seperti selimut tebal yang melindungi dari angin malam.

Lihat selengkapnya