LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #26

Dua Detak Jantung, Satu Ruang Sunyi

Kamar tidur Vini tidak besar, didominasi oleh ranjang ukuran queen dengan seprai putih yang dingin. Pencahayaannya temaram, hanya berasal dari lampu tidur di nakas yang membiaskan cahaya kekuningan di lantai kayu.

Ron menata selimut di lantai, gerakannya pelan dan terkontrol. Sementara Vini duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri, menatap punggung Ron.

Suasana hening. Hening yang intim. Hening yang seolah mengatakan sesuatu tanpa kata.

"Kamu… sering melakukan ini?" tanya Vini, suaranya pelan, nyaris ragu. "Tidur berdua sama seseorang?"

Ron tertawa kecil, nada hangat yang memecah dinginnya ruangan. "Sama adikku waktu kecil… mungkin. Selain itu? Belum pernah."

Vini menunduk, pipinya memerah samar karena malu. "Maaf… aku jadi nyusahin kamu, ya."

Ron berhenti bergerak. Ia menoleh, menatap Vini lurus. Matanya menggeleng pelan tapi tegas.

"Kamu nggak nyusahin siapa pun, Vin. Justru… aku senang kamu mau percaya sama aku."

Untuk sesaat, setelah Ron mengatakan itu, ruangan kembali tenggelam dalam hening. Namun kali ini, heningnya berbeda—bukan canggung, bukan kosong, melainkan hening yang membuka ruang-ruang rahasia di dalam diri masing-masing.

Ron kembali menata lipatan selimut di lantai perlahan—jauh lebih lama dari yang seharusnya.

Gestur itu bukan soal selimut. Itu soal pengalihan pikirannya.

Karena kata "percaya" yang ia ucapkan barusan menusuk sesuatu yang Ron simpan jauh di dalam: kenangan tentang seseorang yang dulu pernah menatapnya dengan tatapan yang sama, percaya padanya dengan cara yang sama—dan bagaimana Ron berakhir hanya bisa menemaninya, tanpa bisa menyelamatkannya.

Seorang perempuan yang dulu hanya bermula dari narasumber liputan, namun berakhir menjadi hantu di sudut ingatannya.

Perempuan yang senyumnya terlihat kuat, tapi matanya selalu berteriak meminta dunia berhenti membebaninya. Perempuan yang Ron pikir bisa ia bantu hanya dengan mendengar.

Namun Ron terlambat. Perempuan itu pergi dari dunia dengan cara yang Ron benci untuk ingat—meninggalkan pesan terakhir dalam secarik kertas yang tintanya telah kering, namun lukanya masih basah.

Ron tidak pernah menceritakan bagian kelam itu kepada siapa pun. Apalagi kepada Vini, yang kehadirannya terasa begitu mirip. Ia tak sanggup.

Napasnya pelan, menekan bayangan itu kembali ke dasar ingatan. Karena di hadapannya, ada seseorang yang sama rapuhnya, tapi masih bernapas. Masih punya kesempatan untuk selamat. Kesempatan yang tak pernah dimiliki perempuan itu.

Lihat selengkapnya