Pagi menyelinap masuk lewat tirai tipis, membawa cahaya keperakan yang lembut ke dalam kamar.
Udara masih dingin, namun sedikit lebih hangat dibanding semalam—seolah malam itu telah menyembuhkan luka-luka kecil di balik napas tenang dua orang yang tertidur tak jauh dari satu sama lain.
Ron terbangun pertama. Ia tak langsung bergerak. Selama beberapa detik, matanya hanya menatap langit-langit kamar Vini—putih, polos, dan entah mengapa terasa menenangkan.
Ron berbicara pada dirinya sendiri dalam hati. Aku… tidur di sini.
Ia baru sadar betapa anehnya kenyataan itu. Aneh, tapi tak salah. Aneh, tapi tak ingin ia ubah.
Ron menoleh. Vini masih tertidur di ranjang. Tubuhnya meringkuk sedikit, posisi janin yang defensif, rambutnya jatuh sebagian menutupi pipi. Napasnya pelan, teratur, seperti seseorang yang akhirnya bisa tidur setelah sekian lama berperang dengan isi kepalanya sendiri.
Ron menggeser tubuhnya perlahan di lantai agar tidak membangunkannya. Namun ia terhenti. Jari mereka masih saling menggenggam.
Ron baru sadar. Vini tak melepas genggamannya sepanjang malam. Jemari itu mengunci Ron seperti gembok yang takut kehilangan kuncinya.
Dia benar-benar takut sendiri… batin Ron, dadanya sesak oleh rasa iba yang bercampur tanggung jawab.
Ron mencoba menarik tangannya pelan-pelan, inci demi inci. Tapi sebelum ia sempat melepaskan tautan itu—Vini menggenggam lebih kuat. Seolah sensor tubuhnya tahu Ron bergerak menjauh.
Matanya belum terbuka, tapi jemarinya menahan mati-matian.
"Jangan pergi dulu…" bisik Vini, suaranya serak khas bangun tidur, namun nadanya penuh permohonan.
Ron membeku. Ada sesuatu di kalimat itu yang menusuk langsung ke dadanya—sebuah ketergantungan yang jujur dan telanjang.
"Aku nggak pergi," jawab Ron pelan, kembali merebahkan diri. "Aku masih di sini."
* * *
Selang beberapa menit, Vini akhirnya membuka mata sepenuhnya. Gerakannya hati-hati, seperti seseorang yang mengintip dari balik persembunyian, memastikan dunia di depannya aman sebelum benar-benar berani muncul.
Ketika pandangannya menangkap sosok Ron yang masih duduk di lantai, ada kelegaan yang begitu nyata melunturkan ketegangan di wajahnya.
"Kamu benar-benar… masih di sini," bisik Vini, suaranya terdengar takjub.
Ron tersenyum kecil, senyum pagi yang lelah namun tulus. "Bukannya aku sudah janji?"
Vini menunduk sebentar, menyembunyikan matanya yang berkaca. Bagi orang biasa, janji hanyalah rangkaian kata. Tapi bagi Vini, janji adalah mata uang yang nilainya sudah lama hancur—sesuatu yang jarang ia percaya, dan lebih jarang lagi ditepati orang lain.
Vini bangun perlahan, duduk di tepi ranjang. Rambutnya jatuh berantakan membingkai wajahnya, sisa-sisa demam semalam membuat kulitnya pucat, tapi di balik itu semua… ia terlihat hidup.
"Tadi malam… aku takut nyusahin kamu," gumamnya.
Ron menggeleng tegas. "Kamu nggak nyusahin siapapun."