LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #28

Menuju Titik Nol—Ketergantungan Eksplisit

Sore bergulir pelan menjadi malam. Kota Billboard memercikkan cahaya neon seperti serpihan kaca pecah yang dilemparkan ke langit gelap.

Lalu lintas di bawah sana masih ramai, namun dari balkon apartemen Vini, suara-suara itu terdengar jauh—seperti gumam dari dunia lain yang tak bisa ia sentuh.

Vini berdiri di sana, memeluk kedua lengannya, hanya mengenakan hoodie tipis. Tatapannya mengarah ke lampu-lampu kota yang berpendar, tetapi matanya tak benar-benar fokus.

Seharian ini, beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan setelah Ron sarapan bersamanya. Namun ketika matahari turun, kecemasan itu kembali merayap—halus, diam, dan menusuk dari dalam tulang.

Ia menghela napas panjang, uap tipis keluar dari bibirnya. Kenapa malam selalu terasa lebih dingin…? batinnya.

Tatapannya berpindah ke ponsel di meja kecil. Dua notifikasi: jadwal foto besok, pesan gosip dari Clarissa. Tak ada nama Ron di sana.

Vini menggigit bibir. Jemarinya sempat melayang ragu di atas layar, bertarung dengan egonya sendiri. Ia tak ingin terlihat bergantung.

Tapi lima menit berlalu dalam hening yang terlalu panjang… dan ia menyerah pada dirinya sendiri.

Vini mengetik pesan pendek:

Kamu udah pulang?

Pesan itu terkirim. Hampir seketika, layar ponselnya menyala.

Ron: Belum. Lagi di jalan. Kamu kenapa?

Vini menatap layar. Ada sesuatu di dadanya yang menghangat pelan, mencairkan beku yang ia rasakan sejak sore.

Vini: Nggak. Cuma tanya.

Balasan datang lebih cepat dari dugaan.

Ron: Aku ke sana.

Vini terpaku. Jantungnya melompat. Ia mengetik cepat:

Ron… aku nggak minta kamu datang.

Ron membalas tanpa jeda:

Tapi kamu nanya aku pulang atau belum.

Vini terdiam. Tidak tahu apa yang harus ia ketik berikutnya. Logikanya ingin menolak, tapi jarinya kaku. Lalu pesan itu muncul lagi.

Aku dekat. Lima menit sampai.

Itu bukan tawaran. Itu keputusan.

Vini menatap layar lama. Wajahnya tetap tegang berusaha menyangkal, tetapi matanya perlahan melunak, mengkhianati keinginannya.

…Kenapa aku lega?

"Tapi Rasanya Berbeda dari Semalam"

Lima menit kemudian, bel pintu berbunyi satu kali. Pendek, tapi cukup untuk membuat Vini bergerak cepat.

Ia membuka pintu. Ron berdiri di sana, mengenakan kaos hitam polos dan jaket tipis. Aura luar ruangan yang dingin masih menempel padanya. Rambutnya sedikit basah—entah karena rintik hujan di luar, atau karena ia setengah berlari ke sini.

“Kamu kelihatan pucat,” ucap Ron. Matanya langsung memindai wajah Vini tanpa basa-basi.

“Kamu sudah makan?”

Lihat selengkapnya