LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #29

Tidur Berdua

Jam hampir menunjukkan pukul satu dini hari. Lampu ruang tamu apartemen Vini telah lama dimatikan, menyisakan cahaya neon kota yang menyusup lancang lewat celah tirai. Biru, jingga, dan ungu saling bertumpukan di dinding putih—seperti lukisan abstrak kota yang diam, namun memar.

Vini tertidur di sofa, kepalanya terkulai pasrah di bahu Ron.

Ron tahu ia seharusnya membangunkannya, memindahkannya ke kamar, lalu menjaga jarak aman di sofa tamu—seperti orang yang masih punya akal sehat. Tapi tubuhnya menolak perintah otaknya. Ia tak sanggup bergerak.

Bahkan caranya tidur pun kelihatan capek… batin Ron, matanya menelusuri garis wajah Vini yang diterpa cahaya biru samar.

Vini bergeser sedikit dalam tidurnya, mencari posisi nyaman. Bahunya menekan dada Ron lebih dekat. Napas hangatnya menyentuh sisi leher laki-laki itu.

Ron menahan napas. Otot-ototnya menegang—bukan karena tidak nyaman, melainkan karena takut memutus momen rapuh itu.

Akhirnya, dengan sangat hati-hati, Ron menggeser lengannya untuk menopang kepala Vini dengan lebih nyaman. Gerakan kecil itu membuat Vini membuka mata setengah—kabur dan berat.

“Ron?” panggilnya serak, nyaris tenggelam oleh kantuk.

“Aku di sini. Tidur lagi,” bisik Ron.

Vini tidak menjawab. Ia hanya menatap Ron satu detik—tatapan setengah sadar, namun jujur. Tatapan yang berkata: terima kasih sudah tinggal.

Lalu matanya terpejam kembali.

Ron, tanpa sadar dan didorong oleh refleks naluriah, mengusap anak rambut di dahi Vini. Gerakan kecil yang langsung ia sesali karena terlalu intim. Namun Vini tidak menolak. Ia justru menghela napas panjang, tubuhnya semakin rileks.

Beberapa menit kemudian, Ron menyadari ia tak bisa membiarkan Vini tidur dalam posisi duduk terlalu lama.

Dengan gerakan nyaris tak terdengar, ia menyelipkan tangan ke bawah pundak dan lutut Vini. Perlahan, ia mengangkat tubuh itu. Ringan—namun terasa padat oleh beban tak kasat mata. Seperti mengangkat vas keramik yang retak: indah, rapuh, dan bisa hancur jika salah menekan.

Ron membawa Vini menuju kamar. Napasnya tetap teratur di dada Ron, seolah tubuhnya tahu bahwa tangan ini tidak akan menjatuhkannya. Vini menggumam pelan—suara kecil tanpa kata yang berarti aku percaya.

Ron membaringkannya di atas kasur, lalu menarik selimut hingga menutup bahunya.

“Maaf kalau kebangun…” bisiknya.

“Jangan pergi…” jawab Vini lirih, mata masih terpejam.

Ron berhenti. Kalimat itu terasa seperti tali yang ditarik langsung ke pusat dadanya.

Ia seharusnya berhenti sampai di situ. Berbalik. Keluar. Menjaga batas.

Lihat selengkapnya