LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #30

Rumah Kaca Yang Retak

Pagi itu, Ron terbangun dalam posisi yang sama persis seperti saat ia menutup mata semalam. Terbaring miring, tubuhnya kaku menjaga jarak sopan, sementara satu tangannya terkulai lemas di atas seprai—hanya berjarak beberapa sentimeter dari jari-jari Vini.

Sunyi.

Hangat.

Dan… berbahaya.

Ron menoleh pelan agar kasur tidak berderit. Vini tertidur menghadapnya—rambut berantakan menutupi sebagian wajah, pipinya memerah alami oleh hangat selimut, bibirnya sedikit terbuka.

Meski ekspresinya damai, Ron tetap bisa melihat jejak lelah di sana. Ia tahu ketenangan di wajah itu adalah barang mewah. Garis-garis halus kecemasan yang biasanya mencengkeram wajah Vini hanya menghilang karena—dan hanya karena—Ron berada di dalam radius napasnya.

Aku seharusnya berhenti datang… batin Ron.

Aku seharusnya bangun sekarang, ambil jaket, dan kembali ke realitas di mana kita cuma jurnalis dan narasumber.

Namun baru saja otot punggungnya menegang untuk bangkit dari ranjang—alarm bawah sadar Vini menyala.

“Jangan pergi…” gumam Vini. Suaranya serak, matanya masih terpejam rapat, seolah ia berbicara dari mimpi buruk yang takut menjadi nyata.

Ron membeku.

Jari-jari Vini bergerak di atas seprai—mencari, meraba seperti radar yang panik—hingga ujung jarinya menyentuh pinggiran kaos Ron. Menggenggam kain itu.

Ron menarik napas panjang, menahannya di dada. Ia tahu. Ia benar-benar tahu konsekuensinya.

Jika ia pergi sekarang, Vini akan terbangun dengan napas pendek. Wajahnya akan pucat. Pikirannya akan terseret kembali ke lubang hitam yang Ron sendiri tidak sepenuhnya mengerti—namun ia benci melihatnya.

Jadi, logika Ron kalah. Lagi.

“Aku nggak pergi. Tidur lagi,” bisik Ron, suaranya rendah dan menenangkan.

Sudut bibir Vini terangkat sedikit—senyum mikroskopis yang jujur, dan justru karena itu terasa menyakitkan untuk dilihat. Genggaman di kaos Ron mengendur, meski tidak sepenuhnya lepas.

Vini kembali tenggelam dalam tidur yang lelap.

Dan Ron… pagi itu ia menyadari satu hal yang mengerikan.

Apartemennya sendiri mungkin tempat ia menaruh barang.

Namun di sini—di samping perempuan yang retak ini—ia mulai memahami arti pulang.

"Definisi Pulang yang Bergeser Tanpa Izin"

Satu hari berlalu.

Lalu menjadi dua.

Lalu tiga.

Lihat selengkapnya