LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #31

Ketika Luka dan Rasa Aman Bertabrakan

Saat malam semakin larut, Vini mulai kehilangan pertahanannya melawan kantuk. Tanpa sadar, kepalanya jatuh dan bersandar berat di bahu Ron.

“Vin? Pindah ke kamar?” tanya Ron pelan.

Vini menggeleng setengah sadar, mata terpejam. “Kamu ikut.”

Ron tersenyum kecil—senyum getir seseorang yang tahu ia sedang melangkah lebih jauh dari rencana awalnya. Ia memapah Vini dengan hati-hati, membawa perempuan itu ke kamar, lalu membaringkannya di ranjang.

Ron berbalik, berniat menuju sofa seperti biasa—namun tangan Vini bergerak cepat, menggenggam ujung bajunya.

“Di sini…” gumam Vini, suaranya serak, setengah tidur.

Ron menatap genggaman itu. Lembut. Rapuh. Memohon.

Ia mengalah. Naik ke sisi ranjang yang lain. Jarak mereka tak lagi sekadar beberapa sentimeter seperti malam-malam sebelumnya. Kini, jarak itu tinggal satu hembusan napas.

Ron menatap Vini. Dalam keremangan, wajah perempuan itu tampak lembut—namun menyimpan beban yang tak pernah benar-benar ia lepaskan.

“Kamu habis mikir berat lagi?” tanya Ron.

Vini menahan napas, lalu mengangguk pelan. “Kadang aku… takut kalau semua ini cuma mimpi.”

Ron menatap lurus ke matanya. “Kalau ini mimpi, kita berdua lagi mimpi yang sama.”

Vini menunduk. Kata-kata itu terlalu manis. Terlalu berbahaya. Jemarinya kembali memilin ujung lengan baju—kebiasaan lama yang muncul saat pikirannya mulai kehilangan kendali.

Ron memperhatikannya. Satu detik. Dua.

Lalu ia mengulurkan tangan, menghentikan gerakan gelisah itu.

“Vin. Lihat aku.”

Vini mendongak pelan. Tatapan mereka bertaut. Udara di kamar menegang—hangat, berat, namun anehnya menenangkan. Ron mendekat sedikit, ibu jarinya mengusap punggung tangan Vini yang gemetar.

“Kamu… aman.”

Lihat selengkapnya