Tiga hari berlalu sejak malam itu, namun rasanya waktu enggan melangkah maju. Apartemen Vini berubah pelan-pelan. Bukan dalam bentuk renovasi besar, tapi lewat hal-hal kecil yang hanya disadari oleh dua orang yang diam-diam sedang menjahit hidup mereka menjadi satu.
Kemeja flanel dan kaos hitam Ron kini menggantung di antara gaun-gaun malam Vini. Sebuah sikat gigi biru berdiri berdampingan dengan miliknya di wastafel kamar mandi. Sepatu boots kulit Ron terparkir rapi di samping heels Vini dekat pintu.
Pemandangan itu seolah berkata Ron telah tinggal di sana bertahun-tahun. Padahal, kenyataannya baru hitungan hari.
Pagi itu, Vini terbangun lebih dulu. Cahaya matahari menyentuh separuh wajahnya dengan lembut. Ia tidak segera bangun—hanya diam, menatap Ron yang tertidur miring menghadapnya.
Napas laki-laki itu pelan dan teratur, rambutnya sedikit berantakan jatuh ke dahi. Pemandangan yang dulu terasa mustahil—bahkan menakutkan—kini terasa seperti hal paling wajar di dunia.
Kapan terakhir kali aku bangun tanpa merasa kosong…? batin Vini. Tangannya terulur di udara—ingin menyentuh, tapi takut membangunkan.
Ron bergerak dalam tidurnya, tangannya meraba seprai, mencari sesuatu yang hilang. Saat tak menemukan apa pun, keningnya berkerut gelisah.
Melihat itu, Vini bergeser mendekat. Membiarkan dirinya ditemukan. Membiarkan tangan Ron, secara refleks, memeluk pinggangnya dan menariknya kembali.
Kerutan di dahi Ron lenyap seketika. Ia kembali tenang.
Dan di saat itu, sesuatu dalam pertahanan Vini runtuh lagi. Bukan dinding ketakutan—melainkan sesuatu yang jauh lebih rapuh dan mendesak: keinginan untuk tetap hidup.
“Kamu bangun duluan?” suara serak khas bangun tidur memecah keheningan.
Vini tersentak kecil, lalu mengangguk. Jemarinya memberanikan diri memutar ujung rambut Ron yang kusut. “Iya. Kamu tidurnya nyenyak banget. Kayak anak kecil.”
Ron tersenyum tipis, matanya masih setengah terpejam, menikmati sentuhan itu. “Kalau di sini, iya.”
Vini menunduk. Jemarinya berhenti. “Di sini? Maksudnya… di apartemen ini?”
Ron membuka mata sepenuhnya. Kantuk di wajahnya hilang seketika, digantikan oleh sorot mata jujur dan serius—tatapan pria yang tidak sedang main-main dengan ucapannya.
“Bukan,” jawabnya rendah. “Di samping kamu.”
Napas Vini tersendat.
Kalimat itu sederhana. Tidak berbunga-bunga. Namun dampaknya seperti seseorang baru saja meletakkan masa depan di telapak tangannya—berat, berharga, dan menakutkan.
Ron bangkit dan berjalan ke dapur, hanya mengenakan celana pendek.
Vini mengamatinya dari ambang pintu kamar, memperhatikan cara Ron mengambil gelas, membuka kulkas, dan menyeduh air panas.
Semuanya terlihat terlalu natural.
Seolah Ron sudah lama menjadi bagian dari ruangan itu.
Seolah apartemen ini sejak awal diciptakan untuk menampung dua orang yang saling membutuhkan.
Vini menyusul, mengeratkan hoodie kebesaran yang menutupi tubuhnya.
“Kamu bikin kopi?” tanyanya pelan.