LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #34

Peringatan dari Seorang Sahabat

Studio kembali bising. Lampu disesuaikan, kru bergerak cepat, Clarissa sibuk memberi arahan dengan suara tajam yang sudah akrab bagi semua orang di ruangan itu.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Arman menepuk lengan Ron sekali—singkat, namun penuh makna.

“Keluar sebentar,” katanya pelan. Bukan permintaan.

Ron menoleh sekilas ke arah Vini. Perempuan itu telah kembali pada perannya—berdiri tegak, wajah netral, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Ron mengangguk kecil, lalu mengikuti Arman ke lorong samping, ruang sempit yang jauh dari kamera dan telinga.

Begitu pintu tertutup, Arman langsung bicara.

“Aku nggak nanya sebagai teman dulu,” ucapnya, menurunkan suara. “Aku nanya sebagai jurnalis. Kamu sadar apa yang lagi kamu lakukan?”

Ron menyandarkan punggung ke dinding, menarik napas perlahan.

“Aku nggak melanggar apa pun.”

“Belum,” potong Arman cepat. “Tapi kamu lagi jalan ke sana.”

Ron menatap lantai, rahangnya mengeras. “Ini beda.”

“Semua orang selalu bilang begitu,” balas Arman dingin. “Sebelum akhirnya nabrak tembok yang sama.”

Ia melangkah setengah langkah lebih dekat. Nada suaranya tetap rendah, namun tajam.

“Dia narasumber kamu. Wajah publik. Aset industri. Dan sekarang—kalau instingku nggak salah—juga titik lemah kamu.”

Ron mengangkat kepala. “Jangan bawa dia ke sini.”

“Justru karena itu aku bawa,” jawab Arman tenang. “Karena dunia nggak sebaik kamu. Dunia nyari celah. Dan hubungan kayak gini? Itu celah.”

Hening jatuh di lorong sempit itu. Hanya dengung AC yang tersisa.

Arman menghela napas pendek, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih hati-hati.

“Aku juga punya firasat buruk soal dia.”

Ron menegang. “Maksud kamu?”

“Tatapannya,” kata Arman. “Waktu kenalan tadi. Itu bukan tatapan orang yang cuma lelah. Itu tatapan orang yang menyimpan masa lalu dan trauma. Kamu harusnya lebih tahu soal itu.”

Kalimat itu menghantam tepat di tempat yang paling Ron kenal.

Ia mengatupkan rahang. “Aku bisa jaga jarak profesional.”

Arman menggeleng pelan. “Ini bukan soal jarak. Ini soal persepsi.”

Ia menatap Ron lurus. “Dan di ruang publik, persepsi selalu menang.”

Ron tidak menyangkal.

“Tapi justru karena itu,” lanjut Arman, “kamu harus ekstra hati-hati.”

Ron menutup mata sesaat. “Aku nggak mau ninggalin dia.”

“Aku nggak minta kamu ninggalin,” jawab Arman. “Aku minta kamu sadar risikonya. Kalau kamu terus maju, lakukan dengan mata terbuka. Jangan ngorbanin profesi. Jangan biarin semuanya hancur seperti dulu.”

Ia mundur selangkah, membuka pintu lorong.

“Satu lagi,” katanya tanpa menoleh. “Kalau suatu hari aku harus milih—teman atau redaksi—aku mau jujur dari sekarang: aku pilih kebenaran. Bahkan kalau harganya aku sendiri.”

Ron menatapnya. “Aku harap nggak sampai ke sana.”

Arman berhenti di ambang pintu. “Aku juga. Makanya aku ngomong sekarang.”

Pintu terbuka. Bising studio menyergap kembali.

Ron berdiri sendiri di lorong sempit itu, menyadari satu hal yang tak bisa lagi dihindari:

bukan hanya hatinya yang dipertaruhkan—melainkan reputasi, masa depan, dan keselamatan sahabat serta orang yang kini ia lindungi.

Ia mengerti sekarang.

Setiap pilihan memiliki harga. Dan ada jenis peringatan yang, begitu diucapkan, bukan dimaksudkan untuk ditarik kembali—melainkan untuk dipenuhi, kapan pun waktunya tiba.

"Setelah Peringatan, Jarak Pertama"

Ron kembali ke ruang studio dengan langkah yang sama seperti sebelumnya. Kamera masih menyilang di bahunya. Wajahnya tenang, ekspresinya profesional—tidak ada yang tampak berubah bagi mata orang lain.

Namun bagi Vini, semuanya terasa berbeda.

Ron tidak lagi berdiri terlalu dekat. Tidak lagi menunggu di sisi panggung saat Clarissa memberi arahan. Tidak lagi menatapnya dengan sorot yang terlalu lama untuk sekadar kerja.

Ia ada. Tapi tidak sepenuhnya hadir.

Vini merasakannya seketika.

Lihat selengkapnya