Beberapa bulan telah berlalu sejak malam ketika dinding pertahanan terakhir mereka runtuh. Pagi di apartemen kecil itu selalu memiliki pola yang sama: aroma kopi pahit seduhan Ron, rambut acak Vini yang jatuh menutupi mata karena posisi tidur yang kacau, sinar matahari putih pucat yang memantul di dinding, dan detak kesunyian yang kini terasa seperti sebuah rumah.
Ron keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Kaos putih longgar menempel di bahunya. Vini duduk di meja kecil dekat jendela, melipat kakinya ke atas kursi, memandangi Ron dengan mata setengah mengantuk.
"Kamu bangun lebih pagi dari aku akhir-akhir ini," gumam Vini.
"Soalnya kamu selalu ketiduran duluan di bahuku setiap kali kita menonton film," jawab Ron sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
Vini menunduk. Garis tipis muncul di sudut bibirnya—sebuah senyum kecil yang Ron kenal sebagai tanda kenyamanan absolut. "Aku tidur paling nyenyak kalau kamu ada," ucapnya lirih.
Ron berhenti bergerak. Komentar itu sederhana, tapi bagi seseorang seperti Vini, setiap kata adalah pengakuan berat yang membawa bayangan masa lalu. Ron mendekat, lalu duduk di kursi tepat di depan Vini.
"Aku juga," bisik Ron.
Vini tersenyum lebih lebar, lalu menyentuh lengan Ron dengan ujung jarinya—sebuah gestur ringan, namun penuh makna tentang ketergantungan yang kian mengakar.
Hari-hari mereka berubah menjadi pola yang tak pernah disepakati, namun selalu terulang—seperti luka yang menemukan cara baru untuk tidak berdarah.
Ron pergi liputan.
Pulang dengan mata lelah dan jaket berbau jalanan.
Menemukan Vini tertidur di sofa, lampu kecil masih menyala, ponsel mati di dadanya.
Vini pulang dari sesi modeling.
Menyelipkan makanan ke kulkas Ron—tanpa catatan, tanpa pesan, seolah Ron pasti tahu itu untuknya.
Ron menulis artikel sambil bersandar di pangkuan Vini, jemarinya mengetik pelan sementara tangan Vini sesekali menyusuri rambutnya tanpa sadar.
Vini latihan catwalk kecil di ruang tamu, meniti garis imajiner di lantai.
Ron mengomentari dengan nada setengah serius, setengah konyol—lebih sebagai penonton yang peduli daripada pengamat profesional.
Hubungan mereka tidak pernah benar-benar diberi nama—tak ada pernyataan resmi, tak ada label "pacaran" yang terucap.
Namun siapa pun yang melihat cukup lama akan mengerti:
Dua orang ini telah saling memilih untuk berhenti mencari tempat lain.
* * *
Suatu sore di studio, Clarissa menyilangkan kaki sambil menyesap kopi kaleng, menatap Ron dan Vini bergantian dengan senyum malas yang berbahaya.
“Kalian ini… kalau suatu hari nggak menikah,” katanya ringan, “itu dunia yang salah.”
Vini hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia batuk kecil, buru-buru menegakkan postur, pipinya memanas dengan cepat.
“Clar… jangan ngomong sembarangan,” gumamnya, suaranya terlalu pelan untuk terdengar meyakinkan.
Ron hanya menggaruk tengkuknya, ekspresi canggung yang jarang sekali muncul di wajahnya.
Ia tidak membantah. Tidak juga mengiyakan.
Clarissa mendengus kecil, lalu mengangkat bahu.