LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #36

Satu Tahun Kemudian: Cahaya yang Kian Terang

Satu tahun lebih telah meluruh sejak malam di balkon itu—malam ketika Ron dan Vini, tanpa kata-kata besar, memilih satu sama lain. Musim berganti berkali-kali, begitu pula napas kota ini—kadang hangat, kadang kejam, selalu bergerak tanpa menunggu siapa pun.

Vini bukan lagi sekadar wajah baru yang tersesat di labirin beton.

Kini, ia adalah wajah kota itu sendiri.

Poster raksasanya berdiri angkuh di puncak gedung-gedung pencakar langit. Wajahnya menghiasi sampul majalah high-fashion. Senyum dinginnya menyapa dari setiap sudut billboard—tempat yang dulu Ron bidik dengan lensa kamera tuanya, di bawah gerimis dan lampu jalan yang redup.

Sebuah ironi yang nyaris puitis:

Ron-lah yang pertama kali mengabadikan senyum itu di trotoar yang sepi.

Dan kini, senyum yang sama telah menjadi obsesi seluruh Kota Billboard.

Di balik hiruk-pikuk studio, Clarissa menatap lembaran majalah terbaru dengan senyum yang sulit diterjemahkan—campuran antara kebanggaan seorang mentor dan getirnya seorang ratu yang baru saja menyerahkan mahkota.

Ia tahu.

Zaman telah berganti.

Takhta itu bukan lagi miliknya.

“Ya ampun,” gumam Clarissa pada penata riasnya sambil mematikan rokok elektronik. “Gadis jalanan yang dulu gemetar itu… sekarang bikin aku kelihatan seperti artefak museum.”

Penata rias itu tertawa kecil, menyapukan kuas ke palet warna.

“Kalau aku jadi kamu, Clar, aku bakal bangga. Kamu yang menemukannya.”

Clarissa mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Billboard raksasa di seberang jalan menampilkan potret Vini—sorot matanya kini tenang, dingin, dan tak lagi meminta izin pada dunia.

“Bangga, tentu saja,” jawab Clarissa pelan, nyaris tenggelam oleh bunyi hairdryer.

“Tapi kalau lagi sendirian… melihat sejarahmu digantikan orang lain tetap saja menyisakan perih.”

Ia tidak mengatakan apa pun lagi. Namun di balik kaca jendela itu, kota terus bergerak—tak peduli pada nostalgia atau rasa kehilangan.

Lihat selengkapnya