LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #37

Bulan Madu Dadakan

Sore itu, cahaya matahari musim panas menyusup hangat ke dalam apartemen, memantulkan rona keemasan pada perabotan yang kini tak lagi terasa asing bagi Ron. Ruang itu sudah lama berhenti menjadi sekadar tempat singgah; ia telah menjelma menjadi sesuatu yang menyerupai rumah.

Vini melangkah masuk dengan napas sedikit memburu—bukan karena lelah, melainkan oleh gairah yang tak tertahan. Di tangannya, terselip sebuah amplop tebal berisi kontrak pemotretan skala nasional. Tawaran dari jenama besar yang menginginkan wajahnya untuk kampanye musim terbaru, berlatar sebuah resor mewah di tepi pantai kota tetangga.

Ron sedang duduk di meja kerjanya, jemarinya menari di atas keyboard laptop, ketika Vini tiba-tiba melingkarkan lengan di lehernya dari belakang. Aroma parfum Vini yang familier segera memenuhi indra penciumannya, mengusir sisa-sisa konsentrasi.

“Aku dapat tawaran besar,” bisik Vini tepat di telinga Ron.

Ron menoleh, melepaskan kacamata bacanya, lalu tersenyum lebar.

“Yang dari agensi luar kota itu?”

Vini mengangguk cepat, matanya berbinar.

“Iya. Mereka minta aku datang minggu depan. Semua sudah disiapkan—resor pribadi, konsep natural di tepi pantai. Mereka ingin aku benar-benar rileks di depan kamera.”

“Itu luar biasa, Vin,” ucap Ron tulus, tangannya mengusap punggung tangan Vini yang masih melingkar di bahunya. “Kamu pantas dapat semua ini.”

Namun Vini tidak melepaskan pelukan itu. Ia justru berputar dan duduk di pangkuan Ron—posisi yang kini terasa alami setiap kali emosinya meluap, entah karena lelah atau bahagia. Tatapannya setengah manja, setengah lagi sarat dengan sesuatu yang lebih serius.

“Tapi…” gumamnya pelan, “aku nggak mau pergi sendirian.”

Ron mengangkat alis, lengannya refleks melingkar di pinggang Vini agar ia tetap seimbang.

“Oh ya? Terus siapa yang kamu mau temani? Clarissa?”

Vini menggigit bibir bawahnya, lalu menatap lurus ke mata Ron.

“Kamu.”

Ron tertawa pelan—tawa rendah yang bergetar di dadanya.

“Agensi bakal keberatan, Vin. Aku bukan bagian dari tim produksi kamu. Aku cuma jurnalis yang kebetulan terlalu sering ada di dekatmu.”

“Justru mereka yang menyarankannya,” potong Vini cepat. “Katanya aku boleh bawa seseorang—siapa pun yang bisa bikin aku santai.”

Ia menelan ludah. “Dan aku nggak pernah benar-benar tenang kalau kamu nggak ada.”

Ron terdiam. Tatapannya melekat pada wajah Vini—wajah yang kini terlalu penting untuk diabaikan demi logika atau jadwal kerja. Ia tahu pekerjaannya menunggu, tapi ia juga tahu satu hal lain: ia tidak akan sanggup menolak permintaan itu.

“Kalau begitu,” bisiknya sambil mengecup kening Vini dengan lembut, “kita berangkat.”

Dan dengan satu anggukan sederhana, mereka mengiyakan perjalanan yang mereka kira akan menjadi bulan madu tanpa rencana—pelarian singkat dari hiruk-pikuk Kota Billboard, dari kamera, dari tuntutan dunia.

Mereka tidak tahu bahwa langkah mereka menuju pantai itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar liburan. Bahwa di balik debur ombak yang terdengar damai, sebuah rahasia telah lebih dulu menunggu.

Tenang di permukaan.

menghanyutkan di bawahnya

Siap menarik siapa pun ke dasar samudra yang paling dalam.

"Persiapan untuk Berangkat: Tawa di Antara Koper"

Beberapa hari berlalu sejak tawaran itu diterima.

Pagi ini, apartemen kecil yang biasanya sunyi berubah menjadi medan perang antara koper yang menganga, tumpukan kamera, dan pakaian yang berserakan di atas karpet. Cahaya matahari menyusup lewat jendela, menyoroti debu-debu yang menari di udara—seolah ikut merayakan kegaduhan yang jarang terjadi.

Vini mondar-mandir dengan langkah ringan, menenteng beberapa helai baju sutra, bibirnya bersenandung lagu pop yang sedang diputar radio. Energinya menular, membuat ruangan terasa lebih hidup dari biasanya.

Ron duduk di pinggir ranjang, secangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis di tangannya. Ia memperhatikan kekacauan yang disebut persiapan itu dengan ekspresi antara terhibur dan pasrah.

Lihat selengkapnya