LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #38

Gerbang Tanjung Solara: Antara Bisnis dan Kejutan

Sore harinya, atmosfer bergeser tajam—dari kehangatan Studio 9 menuju profesionalisme dingin Basecamp Agency. Kantor pusat yang mengoordinasikan pemotretan di Tanjung Solara itu berdiri sebagai bangunan kaca modern; ruangannya luas, dipenuhi poster raksasa kampanye global, kru yang berlalu-lalang dengan headset, dan aroma kopi mahal yang menusuk tajam.

Tanjung Solara bukan sekadar kota tetangga. Di kalangan industri, kota pesisir itu dikenal sebagai Vice City versi nasional—keindahan tropis di siang hari, dan kehidupan malam yang liar, cair, serta sering kali luput dari hukum, saat matahari tenggelam.

Begitu Vini melangkah masuk, keheningan singkat tercipta.

Tatapan kagum menyusuri langkahnya. Tidak ada lagi bisik-bisik tentang “wajah baru”. Yang hadir adalah pengakuan diam-diam: ia kini pusat gravitasi ruangan itu.

“Vini, akhirnya kita bekerja sama secara resmi,” sambut Manajer Agensi—pria paruh baya berbusana rapi dengan senyum terlatih—sambil menjabat tangannya. “Tim kami sudah lama menunggu proyek ini. Kami yakin kamu akan menaklukkan pesisir Tanjung Solara.”

Vini membalas dengan senyum profesional yang tenang. “Terima kasih. Aku juga menantikan proyek ini.”

Manajer itu kemudian beralih ke Ron, menjabat tangannya dengan erat.

“Dan Anda pasti Ron. Sang jurnalis,” katanya sambil tersenyum tipis. “Saya sudah diberi tahu bahwa Anda akan mendampingi Vini.”

“Saya membaca The Face of the New Billboard. Cara Anda menggambarkan Vini sebagai cahaya di kota yang dingin—itu sangat mengesankan. Jarang ada jurnalis yang menulis dengan ketajaman analisis sekaligus kepekaan emosional seperti itu.”

Ron tersenyum tipis, sedikit kikuk. “Saya hanya menulis apa yang saya lihat.”

“Kalau begitu,” balas sang Manajer ringan, “model di depan Anda memang luar biasa sampai bisa membuat pengamat paling rasional berubah puitis.”

* * *

Rapat teknis pun dimulai. Jadwal sunrise shot, konsep busana, logistik resor, hingga jalur evakuasi privasi dibahas dengan presisi. Vini duduk di meja utama, aktif berdiskusi—bukan sekadar wajah, tapi pengambil keputusan.

Ron memilih mundur beberapa langkah, duduk di sofa pojok. Dari sana ia mengamati—perempuan yang dulu ia temui dengan bahu tegang dan mata waspada, kini memimpin ruangan dengan kehadiran yang tak terbantahkan. Vini telah bertransformasi, dan Ron sadar ia beruntung menjadi saksi bisu di balik layar.

Saat sesi berakhir dan Vini dibawa ke ruang ganti oleh tim stylist, Manajer Agensi menghampiri Ron.

“Untuk resor,” katanya santai, merendahkan suara, “kami sudah menyiapkan unit paling privat di tepi pantai. Tidak ada kebijakan khusus atau prosedur rumit dari agensi soal tamu. Kalian bisa menginap berdua dengan aman. Privasi Vini adalah prioritas kami."

Ron sempat salah tingkah sejenak, namun ia segera menguasai diri. Ia berdeham, lalu mencondongkan tubuh sedikit.

“Sebenarnya… saya punya satu permintaan kecil.”

Manajer itu mengangkat alis, tertarik. “Silakan.”

Lihat selengkapnya